kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Mainan asal China merajalela, industri mainan lokal kalah bersaing


Senin, 23 Juli 2018 / 18:07 WIB
ILUSTRASI. Penjualan mainan di Pasar Gembrong, Jakarta


Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri mainan dalam negeri masih didominasi oleh impor. Bersadarkan Badan Pusat Statistik (BPS), hingga kuartal I-2018 komposisi impor mainan di Indonesia mencapai 65%. Sedangkan mainan produksi lokal hanya 35%.

Johan S. Tandanu, Sekretaris Jendral Asosiasi Pengusaha Mainan Indonesia (APMI) menjelaskan kesulitan produksi di Indonesia dari sisi bahan baku. Ada beberapa komponen yang masih belum bisa dibuat di Indonesia seperti baut dan komponen kecil lainnya. Hal tersebut mempengaruhi produksi dalam negeri.

Selain bahan baku, Johan menyebutkan ada beberapa pabrik yang memang tujuannya adalah ekspor karena ketatnya persaingan lokal. “Pabrik perlu agen distributor untuk memasarkan produk, tetapi sebagian pabrik tidak bisa handle lokal karena kompetisi dan tidak ada budget untuk promosi brand sehingga melakukan ekspor,” ujarnya, Senin (23/7).

Dia bilang, pasar mainan dalam negeri dikuasai China. Bahkan, untuk satu kontainer mainan yang diimpor mereka bisa memasukan 10 – 20 varian. “Kami satu kontainer satu varian,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×