Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tantangan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan masih menjadi salah satu kendala dalam pemerataan akses digital. Infrastruktur telekomunikasi yang belum merata membuat sejumlah wilayah, khususnya daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), masih menghadapi keterbatasan konektivitas.
Maka, Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) dan Asosiasi Internet of Things Indonesia (Asioti) mendorong integrasi infrastruktur satelit dengan teknologi internet of things (IoT). Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dalam forum internasional BATIC 2026.
Kerja sama in untuk memperluas konektivitas ke wilayah yang sulit dijangkau jaringan terestrial sekaligus meningkatkan efisiensi operasional di berbagai sektor, seperti pertanian, maritim, perkebunan, pertambangan, dan logistik.
Dewan Pengawas ASSI, Budi Satria Dharma Purba mengatakan, perkembangan industri telekomunikasi nasional membutuhkan konvergensi antara teknologi satelit dan infrastruktur digital di darat.
Menurutnya, satelit tidak lagi sekadar menjadi pilihan cadangan, tetapi dapat berperan sebagai salah satu infrastruktur utama untuk mendukung ekspansi ekonomi digital ke wilayah yang belum terjangkau jaringan terestrial.
Baca Juga: Anwar Ibrahim Minta Prabowo Perhatikan Investasi Felda di BWPT
"Selama ini ekspansi industri terkendala oleh mahalnya pembangunan infrastruktur kabel optik atau seluler di wilayah remote. Dengan mengintegrasikan jaringan satelit, perangkat IoT di sektor perkebunan, pertambangan, hingga maritim dapat mengirimkan data secara real-time tanpa batasan wilayah," ujar Budi, dalam keterangannya, Rabu, (26/8).
Ketua Umum Asioti, Faizal Rochmad Djoemadi menambahkan, kebutuhan terhadap solusi otomatisasi industri yang semakin meningkat turut membutuhkan konektivitas yang stabil dan andal.
"Pasar menuntut solusi end-to-end yang efisien dan andal. Kolaborasi ini menjembatani kreativitas industri perangkat IoT lokal dengan keandalan infrastruktur satelit global," jelas Faizal.
Dalam kerja sama tersebut, ASSI dan Asioti menetapkan sejumlah fokus strategis. Salah satunya adalah interoperabilitas, yakni mengintegrasikan perangkat IoT di lapangan dengan jaringan satelit sehingga sensor di wilayah underserved dan unserved dapat tetap terhubung.
Selain itu, kedua asosiasi menempatkan keamanan siber sebagai bagian penting dalam pengembangan ekosistem tersebut. Pengamanan data dari perangkat di lapangan hingga pusat data dinilai diperlukan, mengingat IoT dapat digunakan untuk mengirimkan berbagai informasi penting dalam operasional industri.
"Kolaborasi ini memastikan, ekspansi teknologi yang masif tetap berjalan beriringan dengan kepatuhan terhadap standar keamanan, privasi dan integritas data pengguna," kata Faizal.
Kerja sama juga mencakup program alih pengetahuan dan pengembangan talenta. Kedua asosiasi sepakat tidak hanya mendorong pembangunan infrastruktur, tetapi juga meningkatkan kapasitas sumber daya manusia yang mampu mengembangkan dan mengoperasikan teknologi satelit serta IoT.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














