Reporter: Genta Disa | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Negara-negara ASEAN tengah berupaya menggeber industri pariwisata. Apalagi di tengah kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian, sektor pariwisata menjadi andalan untuk menggerakkan perekonomian.
Sekretaris Jenderal ASEAN, Kao Kim Hourn menyebut, kawasan ASEAN menerima sekitar 147 juta kunjungan wisatawan internasional sepanjang 2025. Hampir 42% di antaranya merupakan perjalanan antarnegara ASEAN.
Sementara itu, kunjungan wisatawan di kawasan ASEAN Plus Tiga (China, Jepang, Korea Selatan) mencapai sekitar 244 juta.
Nah, salah satu negara yang warganya paling banyak melancong ke kawasan ASEAN adalah Korea Selatan. Dus, negara ASEAN pun menargetkan makin banyak wisatawan asal Negeri Gingseng berdatangan.
Baca Juga: Konsumen Makin Peduli Asal-usul Tuna, Industri Perikanan Dituntut Transparan
Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata Diah M. Paham mengatakan, kunjungan wisatawan antara negara-negara ASEAN dan Korea ditargetkan naik dari 13 juta menjadi lebih dari 20 juta wisatawan.
Salah satu upaya yang dilakukan melalui penguatan konektivitas, pengurangan hambatan perjalanan, dan peningkatan kerja sama pariwisata kedua kawasan.
Target tersebut menjadi salah satu agenda utama konferensi ASEAN-Korea Roundtable in Tourism (AK-RT) 2026 yang berlangsung pada 4–7 November 2026 di Jakarta.
“Salah satu misi utama dari kolaborasi regional ini adalah memperluas pertukaran pariwisata dua arah antara Republik Korea dan negara-negara ASEAN. Targetnya adalah meningkatkan jumlah kunjungan dari 13 juta menjadi lebih dari 20 juta orang, sembari menjaga keseimbangan arus perjalanan di seluruh kawasan kita,” kata Diah dalam keterangan resmi, Kamis (5/11/2026).
Perbaikan dari Hulu
Sejumlah negara ASEAN pun berupaya memperbaiki industri pariwisatanya demi mengundang minat wisatawan.
Singapura contohnya, bahkan melakukan perbaikan mulai dari sisi hulu yakni sumber daya manusia di sektor pariwisata.
Setiap lulusan pendidikan pariwisata di Singapura masih akan dibekali pelatihan tambahan setelah memasuki dunia kerja. Sebab, perubahan kebutuhan industri, terutama akibat adopsi teknologi dan kecerdasan buatan (AI), membuat keterampilan tenaga kerja harus terus diperbarui.
Wakil Direktur Talenta Perhotelan dan Pariwisata, Dewan Pariwisata Singapura, Candice Lim mengatakan, lulusan baru tetap perlu mengikuti pelatihan meski telah dibekali pendidikan formal.
“Menjawab pertanyaan apakah lulusan baru masih perlu dilatih, jawabannya adalah ya, karena zaman terus berubah secara dinamis. Keterampilan mereka harus selalu diperbarui,” ujar Candice dalam ASEAN-Korea Roundtable in Tourism 2026 di Jakarta, Jumat (6/11/2026).
Baca Juga: RKAB Batubara 2027 Dievaluasi, Kementerian ESDM Pertimbangkan Kebutuhan Pasar
Dewan pariwisata dan asosiasi industri bekerja sama dengan lembaga pendidikan tinggi untuk meninjau kurikulum serta memberikan masukan agar kebutuhan industri dapat dipenuhi selama mahasiswa menjalani pendidikan formal.
“Kami menyelesaikannya dari hulu. Dewan Pariwisata dan asosiasi bekerja sama sangat erat dengan Lembaga Pendidikan Tinggi untuk meninjau kurikulum dan memberi masukan agar kebutuhan industri sudah terpenuhi saat mahasiswa menjalani pendidikan formal,” jelasnya.
Di luar pendidikan formal, Singapura juga menyediakan skema pelatihan bagi calon tenaga kerja di tingkat menengah maupun kepemimpinan. Skema ini menjadi bagian dari upaya menyesuaikan kompetensi pekerja dengan kebutuhan perusahaan di setiap jenjang karier.
Candice menyebut, produktivitas menjadi perhatian utama Singapura karena negara tersebut memiliki jumlah tenaga kerja yang terbatas.
“Itu adalah masalah mendasar yang harus kami tangani secara terstruktur,” katanya.
Untuk meningkatkan produktivitas, Singapura mendorong perusahaan meningkatkan pemanfaatan teknologi dan mengadopsi AI. Langkah tersebut turut mengubah jenis pekerjaan yang dilakukan tenaga kerja pariwisata sehingga membutuhkan keterampilan baru.
“Konsekuensinya, kami harus melatih staf untuk mengoperasikan solusi AI tersebut,” ujar Candice.
Selain pelatihan formal, Candice bilang, Singapura juga mendorong pemberi kerja menyediakan kursus singkat atau bite-size bagi karyawan.
“Mereka dapat berlatih sambil bekerja dan menimba keterampilan penting ini di sepanjang jalan,” jelasnya.
Pentingnya Standar Kompetensi
Sementara itu, Asosiasi Agen Tur dan Perjalanan Malaysia, Malaysian Association of Tour & Travel Agents (MATTA) mendorong negara ASEAN memperkuat pengakuan dan penerapan standar kompetensi pariwisata bersama.
Langkah ini diperlukan agar standar pariwisata ASEAN tidak hanya menjadi pedoman, tetapi juga dikenal dan diterapkan oleh industri serta lembaga pendidikan.
Presiden MATTA, Nigel Wong Chun Teim mengatakan, standar pariwisata ASEAN sebenarnya telah tersedia. Namun, penerapannya masih membutuhkan dukungan kebijakan pemerintah, terutama untuk mendorong pengakuan dan adopsi prinsip-prinsip standar tersebut di masing-masing negara.
“Karena setiap negara memiliki persyaratannya sendiri, setidaknya untuk mengakui dan mengadopsi prinsip-prinsip dasar dari standar tersebut lalu mendorong kesadaran akan standar itu ke pasar,” jelasnya dalam ASEAN-Korea Roundtable in Tourism 2026 di Jakarta, Jumat (6/11/2026).
Menurutnya, penguatan standar bersama perlu menyasar dua kelompok, yakni mahasiswa yang sedang mempelajari bidang pariwisata dan tenaga kerja yang telah mengikuti pelatihan.
Baca Juga: Biaya Logistik Industri Makanan dan Minuman Naik 3 Kali Lipat Imbas Pelemahan Rupiah
Nigel menilai, pengakuan terhadap standar bersama juga penting untuk membangun pemahaman wisatawan mengenai kualitas layanan pariwisata di kawasan ASEAN.
“Memberi tahu seluruh dunia bahwa standar perhotelan dan pariwisata ASEAN berada pada tingkat tertentu dan mereka dapat mengharapkan tingkat kualitas tertentu ketika berkunjung ke negara-negara ASEAN,” katanya.
Dia menambahkan, upaya tersebut perlu berjalan beriringan dengan penyesuaian kurikulum pendidikan pariwisata.
Menurut Nigel, materi pembelajaran perlu memasukkan unsur pertukaran budaya dan kemampuan memahami ekosistem industri agar tenaga kerja lebih siap menghadapi kebutuhan wisatawan.
Di sisi lain, Nigel melihat peluang kolaborasi dalam pengembangan pendidikan pariwisata melalui pemanfaatan teknologi.
Kolaborasi tersebut dapat membantu membawa pendidikan pariwisata ASEAN ke tahap berikutnya, sekaligus memperkuat kesiapan tenaga kerja dalam menghadapi perkembangan industri.
Jaminan Finansial Pekerja Pariwisata
Masalah tenaga kerja sektor pariwisata juga dihadapi Thailand. Negeri Gajah Putih ini menghadapi tantangan mempertahankan tenaga kerja di tengah persaingan dengan sektor lain.
Perbedaan tingkat upah menjadi salah satu faktor yang mendorong lulusan pendidikan pariwisata beralih bekerja ke industri di luar perhotelan.
Direktur Divisi Pengembangan Profesional Pariwisata, Departemen Pariwisata Thailand, Pattanatree Sanyasuttuksorn mengungkapkan, jumlah mahasiswa yang menempuh pendidikan pariwisata masih relatif sama. Namun, jumlah lulusan yang bekerja di industri perhotelan justru lebih sedikit.
“Saya pernah berbincang dengan rekan saya di Dusit Thani College, dan saya bertanya kepadanya tentang berapa banyak mahasiswa pariwisata yang ada, apakah jumlahnya masih sama? Kemudian dia mengatakan bahwa jumlah mahasiswanya sama, tetapi yang bekerja di industri hotel lebih sedikit,” ujar Pattanatree dalam ASEAN-Korea Roundtable in Tourism 2026 di Jakarta, Jumat (6/11/2026).
Ia mencontohkan, sebagian lulusan pariwisata memilih bekerja di rumah sakit karena menawarkan posisi dan gaji yang lebih baik.
Baca Juga: ASEAN Berpeluang Hemat US$ 610 Juta Lewat Skema Cadangan Minyak Bersama
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan retensi tenaga kerja pariwisata tidak bisa hanya diselesaikan melalui peningkatan keterampilan.
Industri juga perlu memastikan pekerja memperoleh keamanan finansial agar tertarik membangun karier jangka panjang.
Pattanatree menilai, upaya meningkatkan kesejahteraan pekerja membutuhkan kerja sama berbagai pemangku kepentingan.
“Jika kita dapat memastikan bahwa para pekerja atau tenaga kerja di industri pariwisata memiliki keamanan finansial, saya pikir kita dapat mempertahankan mereka di industri ini,” katanya.
Selain keamanan finansial, Pattanatree menilai pengembangan keterampilan menjadi salah satu cara meningkatkan retensi tenaga kerja.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
