kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Neraca dagang industri tekstil alami defisit, APSYFI curigai adanya indikasi dumping


Selasa, 13 Agustus 2019 / 20:45 WIB

Neraca dagang industri tekstil alami defisit, APSYFI curigai adanya indikasi dumping
ILUSTRASI. Pekerja pabrik garmen

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Neraca perdagangan industri tekstil mengalami defisit pada kurun waktu Januari hingga Mei 2019. Fenomena ini diduga diakibatkan oleh adanya praktik dumping yang dilakukan oleh Cina sebagai negara pengimpor tekstil.

Secara sederhana, dumping dapat dipahami sebagai praktik curang dalam berdagang yang dilakukan oleh perusahaan dengan dukungan fasilitas oleh negara pelaku dalam bentuk subsidi terselubung, insentif terselubung, dan lain-lain yang menyebabkan harga jual menjadi lebih murah.

Baca Juga: Industri tekstil memprihatinkan, begini tanggapan Menteri Perindustrian

Executive Member Asosiasi Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSYFI), Prama Yudha Amdan menilai indikasi-indikasi di atas ditemui dalam praktik dagang tekstil yang dilakukan oleh Cina.

Menurut Yudha, tekstil yang diimpor dari Cina seharusnya memang memiliki keunggulan dari segi harga karena memiliki keunggulan teknologi dan kegiatan produksi yang efisien. Dengan kondisi yang demikian, Cina memang bisa memiliki harga lebih murah sebesar 8% hingga 10% dengan asumsi praktik perdagangan yang ada dilakukan secara sehat.

Namun demikian, kenyataan yang ada di pasaran menunjukkan bahwa tekstil yang diimpor dari Cina bisa memiliki harga lebih murah sebesar 20%-25%. “Selisih antara 8% sampai 25% itu ada indikasi dumping, itu secara peraturan internasional tidak diperbolehkan karena bisa merusak pasar domestik,“ terang Yudha kepada Kontan (13/08).

Menurut keterangan Yudha, sebagian besar importasi tekstil yang masuk berasal dari Cina dengan persentase lebih dari 60%. Sementara itu, sekitar kurang dari 40% sisanya berasal dari negara-negara pengimpor lain seperti Korea, India, dan Jepang.

Baca Juga: Inilah eksportir benang asal China yang kena BMAD

Adapun tekstil yang diimpor meliputi polyester filament yarn seperti spin draw yarn (SDY) dan partially oriented yarn (POY), polyester staple fiber, benang, greige (kain mentah), dan lain-lain. Produk-produk ini pada umumnya diserap oleh industri-industri tengah seperti pembuatan kain dan pencampuran benang.

Sebagai catatan, industri TPT secara keseluruhan sebenarnya masih mengalami surplus sekitar US$ 2,13 miliar. Besaran capaian ini sebenarnya bertumbuh sebesar 10,23% bila dibandingkan tahun sebelumnya, yakni US$ 1,93 miliar.

Capaian ini ditopang oleh neraca dagang industri pakaian jadi yang mengalami surplus sebesar US$ 3,18 miliar.

Meski demikian, industri tekstil tercatat masih mengalami defisit sebesar US$ 1,05 miliar dengan rincian impor sebesar US$ 3,12 miliar dan ekspor sebesar US$ 2,07 miliar.


Reporter: Muhammad Julian
Editor: Azis Husaini

Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0003 || diagnostic_api_kanan = || diagnostic_web = 0.1823

Close [X]
×