Reporter: Hervin Jumar | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai Tukar Petani Subsektor Tanaman Pangan (NTPP) mencapai 114,65 pada Juni 2026, menjadi level tertinggi sejak Maret 2024.
Pemerintah menilai kenaikan ini menjadi sinyal membaiknya kesejahteraan petani di tengah meningkatnya produksi beras nasional.
Baca Juga: Jasuindo Tiga Perkasa (JTPE) Perluas Ekspansi Ekspor ke Pasar Asia dan Afrika
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara kepentingan petani dan konsumen.
Menurutnya, harga di tingkat petani harus tetap terjaga meski produksi pangan meningkat agar petani tetap memperoleh keuntungan.
"Ini kan kita harus berada di tengah, harus menjaga petani 115 juta jiwa. Konsumen juga harus bahagia. Kita harus jaga harga petani apalagi saudara kita ini yang menjadi benteng terakhir pertahanan pangan kita," ujar Amran dalam keterangannya, Kamis (2/7/2026).
Untuk menjaga harga di tingkat petani, pemerintah menugaskan Perum Bulog menyerap hasil produksi beras dalam negeri.
Baca Juga: INA Pacu Hilirisasi Katoda LFP dan Pusat Data AI Terbesar Asia Tenggara
Hingga akhir Juni 2026, realisasi penyerapan setara beras telah mencapai 3,3 juta ton, terdiri atas 3,25 juta ton Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dan 50.800 ton stok komersial.
Realisasi tersebut meningkat 23,1% dibandingkan periode Januari–Juni 2025 yang mencapai 2,68 juta ton. Sepanjang tahun ini, pemerintah menargetkan Bulog mampu menyerap hingga 4 juta ton beras.
Menurut Bapanas, langkah tersebut penting mengingat produksi beras nasional diperkirakan kembali mengalami surplus.
Penyerapan Bulog diharapkan mampu menjaga harga gabah di tingkat petani agar tidak tertekan saat pasokan melimpah.
Baca Juga: Punya Landbank 900 Hektare, Metland (MTLA) Fokus Optimalkan Proyek Eksisting
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, NTPP pada Juni 2026 mencapai 114,65. Selain menjadi yang tertinggi sepanjang tahun ini, angka tersebut juga merupakan level tertinggi sejak Maret 2024.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, subsektor tanaman pangan menjadi satu-satunya subsektor pertanian yang mencatat kenaikan NTP pada Juni.
"Dari subsektornya, hanya subsektor tanaman pangan yang mengalami peningkatan NTP di bulan Juni," kata Ateng, Rabu (1/7/2026).
BPS mencatat kenaikan NTPP didorong meningkatnya indeks harga yang diterima petani. Harga pada kelompok padi naik 1,13%, sedangkan kelompok palawija meningkat 1,05%.
Bahkan, indeks harga yang diterima petani padi hingga Juni 2026 mencapai 149,65, menjadi yang tertinggi dalam tujuh tahun terakhir.
Baca Juga: Said Iqbal Soroti Kontrak IPP, PLN Disebut Bleeding Akibat Skema Take or Pay
Dari sisi produksi, BPS memperkirakan produksi beras Indonesia sepanjang Januari–Agustus 2026 mencapai 25,28 juta ton atau naik tipis 0,05% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, produksi beras selama Januari–Juni 2026 diperkirakan mencapai 19,27 juta ton, lebih tinggi dibandingkan kebutuhan konsumsi sebesar 15,48 juta ton.
Dengan demikian, Indonesia diperkirakan mencatat surplus beras sekitar 3,79 juta ton pada semester pertama tahun ini.
Bapanas menilai peningkatan penyerapan Bulog telah berperan menjaga harga gabah di tingkat petani di tengah melimpahnya pasokan.
Baca Juga: PGN - Pertamina Group Dukung Kebijakan Harga LNG & Pasokan Gas Industri Kompetitif
Berdasarkan pemantauan Bapanas per 1 Juli 2026, rata-rata harga Gabah Kering Panen (GKP) nasional mencapai Rp 6.989 per kilogram, naik 0,14% dibandingkan sebulan sebelumnya dan meningkat 3,74% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














