kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.988.000   -4.000   -0,13%
  • USD/IDR 17.017   7,00   0,04%
  • IDX 7.107   84,55   1,20%
  • KOMPAS100 978   11,34   1,17%
  • LQ45 722   8,69   1,22%
  • ISSI 249   4,23   1,73%
  • IDX30 393   5,52   1,42%
  • IDXHIDIV20 489   3,83   0,79%
  • IDX80 110   1,42   1,31%
  • IDXV30 134   2,21   1,67%
  • IDXQ30 127   1,16   0,92%

Optimalkan Transformasi, Garuda Indonesia Bidik Tahun 2026 Jadi Titik Balik Kinerja


Selasa, 17 Maret 2026 / 23:28 WIB
Optimalkan Transformasi, Garuda Indonesia Bidik Tahun 2026 Jadi Titik Balik Kinerja
ILUSTRASI. Pesawat Garuda Indonesia (Dok/GIAA)


Reporter: Tendi Mahadi | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) memperkuat fondasi transformasi bisnisnya dengan menargetkan tahun 2026 sebagai fase turnaround kinerja. Ini dilakukan seiring dengan pemulihan kapasitas produksi secara bertahap, penguatan struktur permodalan, serta inisiatif langkah perbaikan bisnis dan operasional sejalan dengan berbagai langkah strategis transformasi yang dicanangkan Garuda Indonesia Group.

Sepanjang tahun buku 2025, perseroan mencatatkan pendapatan usaha konsolidasi sebesar US$ 3,22 miliar, turun 5,9% dibandingkan tahun sebelumnya, seiring fase konsolidasi operasional untuk memperkuat fundamental bisnis.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan mengatakan penurunan tersebut utamanya dipengaruhi oleh terbatasnya kapasitas produksi pada semester I 2025 di mana jumlah unserviceable aircraft masih menunggu scheduled maintenance.

Perseroan juga mencatatkan rugi bersih sebesar US$ 319,39 juta yang turut dipengaruhi oleh fluktuasi kurs, serta peningkatan biaya fixed cost seiring intensitas program pemulihan serviceability armada yang belum serviceable.

Baca Juga: Periode Mudik, Penumpang Whoosh Diprediksi Capai 25.000 Orang Per Hari

Glenny mengatakan, Garuda Indonesia Group terus memaksimalkan jumlah serviceable aircraft di akhir tahun 2025 menjadi sedikitnya 99 armada dari sebelumnya sekitar 84 armada per Juni 2025. Adapun total unserviceable armada pada akhir tahun 2025 sebanyak 43 pesawat yang saat ini tengah dalam tahapan penyelesaian perawatan armada.

Di tengah tantangan optimalisasi kapasitas produksi tersebut, jumlah penumpang tercatat 21,2 juta, terkoreksi 10,5% dibandingkan tahun sebelumnya.

Lebih lanjut, kinerja Garuda Indonesia di tahun buku 2025 juga turut dipengaruhi oleh penurunan passenger yield, tekanan nilai tukar rupiah, serta tantangan rantai pasok industri aviasi global yang berdampak pada biaya dan proses perawatan.

"Ke depan, dengan progres pemulihan armada dan implementasi transformasi yang konsisten, Garuda Indonesia optimis kapasitas produksi dan kinerja operasional akan membaik secara bertahap menuju fase pemulihan yang lebih solid," kata Glenny dalam keterangan tertulis, Selasa (17/3).

Baca Juga: Menhub Temukan OTA Beri Diskon Tiket Pesawat di Bawah 17% Saat Mudik

elaras dengan tantangan fundamental kinerja di tahun buku 2025, manajemen baru Garuda Indonesia yang ditunjuk Danantara di akhir kuartal IV 2025 memproyeksikan sejumlah fokus transformasi kinerja yang akan diakselerasikan di tahun kinerja 2026 ini.

Melalui penguatan struktur manajemen yang diperkuat oleh kepemimpinan baru, serta kombinasi talenta internal Perseroan dan profesional internasional dalam jajaran direksi, Garuda Indonesia memproyeksikan percepatan langkah perbaikan fundamental kinerja yang mencakup 11 inisiatif transformasi guna mendorong optimalisasi kinerja perusahaan secara lebih solid sepanjang tahun 2026.

Melalui dukungan pendanaan shareholder loan dan capital injection di tahun 2025 oleh Danantara, pada akhir tahun Perseroan berhasil mencatatkan perbaikan signifikan pada posisi ekuitas yang kembali positif sebesar US$ 91,9 juta per 31 Desember 2025, meningkat dari posisi tahun sebelumnya yang masih negatif US$ 1,35 miliar.

Dukungan Shareholder Loan (SHL) pada pertengahan 2025 serta capital injection pada akhir tahun 2025 dengan nilai keseluruhan sekitar Rp 23,7 triliun, ditujukan untuk mendukung percepatan program perawatan dan reaktivasi armada, serta penyelesaian kewajiban Citilink kepada Pertamina.

Baca Juga: Volume Kendaraan di Tol Astra Infra Melonjak hingga 80% pada H-6 Lebaran

Dari total dukungan tersebut, 64% atau sekitar Rp 15 triliun dialokasikan kepada Citilink, sementara Garuda Indonesia memperoleh total alokasi sebesar Rp 8,7 triliun untuk kebutuhan perawatan armada, yang masih terus berlangsung dan terus dioptimalkan hingga akhir tahun 2026.

Dengan kondisi tersebut, Garuda Indonesia mencatatkan kas dan setara kas sebesar US$ 943,4 juta pada akhir 2025, meningkat signifikan dibandingkan posisi tahun sebelumnya sebesar US$ 219,1 juta. Arus kas tersebut yang akan dioptimalkan untuk memaksimalkan fundamental operasional perusahaan ke depannya.

Peningkatan ini turut mencerminkan perbaikan likuiditas perusahaan yang menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas operasional serta mendukung berbagai langkah transformasi bisnis yang tengah dijalankan.

Fokus Intensifikasi Maintenance Dorong Pemulihan Kapasitas Produksi Bertahap

Dukungan pendanaan dari Danantara juga mulai memberikan dampak terhadap pemulihan kinerja operasional pada Semester II 2025, yang turut ditunjang oleh penyelesaian lebih dari 100 event maintenance dalam mengoptimalkan penguatan kapasitas produksi Garuda Indonesia Group.

Melalui dukungan pendanaan capital injection di akhir tahun 2025, Garuda Indonesia menargetkan sedikitnya di akhir tahun 2026 akan mengoperasikan sebanyak 68 serviceable aircraft, sedangkan Citilink menargetkan serviceable aircraft di akhir 2026 sebanyak 50 pesawat.

Langkah optimalisasi serviceable aircraft yang ada pada tahun 2026 akan diperkuat melalui proyeksi percepatan beberapa inisiatif strategis proses perawatan armada. Inisiatif ini mencakup heavy maintenance airframe check pada armada Boeing 737-800NG, Boeing 777-300ER, serta Airbus A330.

Selain itu, perseroan juga menjalankan overhaul dan shop visit untuk komponen utama seperti engine, Auxiliary Power Unit (APU), dan landing gear guna memastikan performa armada tetap optimal.

Sebagai bagian dari transformasi jangka panjang, Perseroan juga menjalankan 11 inisiatif strategis utama yang mencakup optimalisasi jaringan rute, peningkatan kapasitas armada, tranformasi digital platform, dan keunggulan revenue management.

Baca Juga: Pesan Menhub ke Maskapai: Harga BBM Bisa Naik Turun, Tapi Pelayanan Harus Tetap Prima

Kemudian dengan mengoptimalkan peningkatan monetisasi kargo, optimalisasi pendapatan tambahan, pembentukan aliansi strategis, peningkatan tata kelola biaya, digitalisasi operasional, sinergi struktur organisasi, serta peningkatan pengalaman pelanggan.

Dengan berbagai langkah transformasi yang terus dijalankan secara disiplin dan terukur, Garuda Indonesia menempatkan tahun 2026 sebagai titik akselerasi pemulihan kinerja perusahaan.

Penguatan fundamental bisnis yang telah dibangun sejak beberapa tahun terakhir menjadi landasan penting untuk mendorong peningkatan kapasitas produksi, optimalisasi pendapatan, serta efisiensi operasional yang lebih berkelanjutan.

Ke depan, melalui eksekusi transformasi yang konsisten, dukungan pemegang saham, serta penguatan kemitraan strategis di tingkat global, Garuda Indonesia optimistis dapat mempercepat langkah menuju fase turnaround yang lebih solid.

Sekaligus memperkuat perannya sebagai national flag carrier yang kompetitif, adaptif terhadap dinamika industri penerbangan global, serta mampu menghadirkan kontribusi terbaiknya bagi bangsa dan negara.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×