Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Modernisasi perkebunan sawit tak harus mengorbankan kearifan lokal. PTPN IV PalmCo, subholding PTPN III (Persero), berupaya menjaga keseimbangan antara efisiensi operasional perkebunan skala besar dan pelestarian tradisi masyarakat adat.
Komitmen tersebut tercermin dalam pelibatan masyarakat adat, khususnya di Kalimantan Barat, pada berbagai tahapan operasional perkebunan. Salah satunya dalam proses peremajaan tanaman atau replanting.
Pelibatan masyarakat adat menjadi bagian penting dalam memastikan modernisasi perkebunan berjalan selaras dengan nilai dan tradisi setempat. Dengan pendekatan ini, pengelolaan perkebunan tidak semata berorientasi pada produktivitas, tetapi juga memperhatikan keberadaan komunitas lokal.
Bagi PalmCo, praktik tersebut menunjukkan bahwa pengembangan industri sawit dan pelestarian kearifan lokal dapat berjalan beriringan. Terbaru, Palmco melibatkan masyarakat adat Dayak dalam ritual Baremah sebelum peremajaan kebun di Kalimantan Barat.
Baca Juga: PTPN IV PalmCo dan Kemendag Jalin Kerjasama Raih Pasar Ekspor melalui InaExport
Ritual Baremah merupakan tradisi untuk memohon restu Jubata (Sang Pencipta) sekaligus menjaga harmoni antara manusia, alam, dan lingkungan. Bagi masyarakat Dayak, pelaksanaan ritual ini menjadi bentuk penghormatan terhadap tanah sebagai ruang hidup yang sarat nilai spiritual.
Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo Arya Sandhiyudha menegaskan, penghormatan terhadap adat istiadat merupakan bagian dari nilai perusahaan sekaligus komitmen sebagai agen pembangunan daerah.
“Keberlanjutan bisnis tidak bisa dilepaskan dari dukungan dan keharmonisan dengan masyarakat sekitar wilayah operasi. Keterlibatan kami dalam tradisi Baremah di Kalimantan Barat menjadi wujud komitmen untuk tumbuh bersama masyarakat,” ujar Arya dalam keterangannya, Selasa (27/10/2026).
Baca Juga: Laba Bersih PTPN IV PalmCo Melonjak 90,3% Jadi Rp 7,08 Triliun, Apa Rahasianya?
Menurut Arya, menjaga tradisi berarti merawat keseimbangan sosial dan ekosistem. Pendekatan ini juga dinilai dapat meminimalkan potensi konflik sosial sekaligus memperkuat rasa memiliki masyarakat terhadap perusahaan.
Praktik tersebut diharapkan menjadi model pengelolaan perkebunan sawit yang tidak hanya berorientasi pada bisnis, tetapi juga memperhatikan kelestarian lingkungan dan kearifan lokal masyarakat adat.
Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kecamatan Kembayan, Thomas, mengapresiasi konsistensi PTPN IV PalmCo dalam melestarikan tradisi Baremah. Ia menilai pelibatan adat dalam peremajaan sawit menunjukkan komitmen perusahaan untuk menghormati budaya lokal. "Tradisi Baremah ini adalah warisan leluhur kami untuk menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta," ujar Thomas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














