Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Tendi Mahadi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tersengat tekanan pasar batubara, PT Adaro Energy Tbk (ADRO) memangkas target produksi batubara di tahun ini. Tak hanya itu, ADRO juga merevisi anggaran belanja modal (capex) dan pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) operasional.
ADRO pun telah melaporkan revisi target tersebut ke Bursa Efek Indonesia (BEI). Head of Corporate Communications Adaro Energy, Febriati Nadira mengungkapkan bahwa kondisi pasar yang kurang kondusif telah mendorong ADRO merevisi panduan tahun 2020 menjadi produksi 52 juta ton-54 juta ton, operasional EBITDA US$ 600 juta-US$ 800 juta, belanja modal US$ 200 juta-US$ 250 juta.
Baca Juga: Tim pengawas tata niaga Nikel dibentuk, AP3I masih berharap penyesuaian formula harga
Nadira bilang, pihaknya akan berfokus untuk mempertahankan marjin yang sehat dan kontinuitas pasokan ke pelanggan. "Kami juga akan terus mengikuti perkembangan pasar dengan tetap menjalankan kegiatan operasi sesuai rencana di tambang-tambang milik perusahaan," ungkapnya saat dihubungi Kontan.co.id, Senin (17/8).
Selain itu, sambungnya, ADRO juga bakal fokus terhadap upaya peningkatan keunggulan operasional, pengendalian biaya dan efisiensi. "Serta eksekusi strategi demi kelangsungan bisnis dan mempertahankan kinerja yang solid," imbuh Nadira.
Di awal tahun, ADRO menargetkan produksi di angka 54 juta ton - 58 juta ton. Sedangkan untuk EBITDA operasional direncanakan sebesar US$ 900 juta - US$ 1,2 miliar. Sedangkan untuk belanja modal dianggarkan dalam rentang US$ 300 juta - US$ 400 juta.
Hingga Semester I-2020, realisasi kinerja operasional ADRO pun mengalami penurunan. Produksi batubara ADRO pada paruh pertama tahun ini tercatat sebesar 27,29 juta ton atau turun 4% dibanding periode yang sama pada tahun lalu.
Baca Juga: Sambut baik satgas pengawas, APNI berharap aturan HPM bisa terealisasi
Volume penjualan batubara ADRO di semester I-2020 juga merosot menjadi 27,13 juta ton atau turun 6% secara year on year (yoy), yang pada paruh pertama tahun lalu mencapai 28,77 juta ton.
Corporate Secretary & Investor Realtions Division Head Mahardika Putranto mengatakan, pandemi Covid-19 ikut berdampak terhadap penurunan kinerja operasional tersebut.
"Titik awal yang kuat bagi perusahaan pada kuartal pertama 2020 diikuti dengan kondisi yang melemah pada kuartal kedua akibat musim hujan yang panjang di wilayah operasi dan penurunan permintaan karena melemahnya ekonomi global serta penurunan permintaan listrik industri karena lockdown akibat Covid-19," kata Mahardika dalam laporan kepada BEI, yang dikutip Kontan.co.id, Senin (17/8).
Lockdown karena Covid-19, berdampak terhadap banyak pelanggan ADRO seiring dengan permintaan listrik di negara-negara pelanggan yang melemah. "Selain dampak negatif Covid-19, ketidakpastian kebijakan impor di beberapa negara semakin memberikan tekanan terhadap pasar batubara yang memang sudah tidak seimbang," sebutnya.
Mahardika menyebut, target baru ADRO untuk produksi batubara telah turun sekitar 10% dibandingkan tahun 2019 secara year on year. "Yang terutama didorong oleh penurunan produksi batubara termal," sebutnya.
Baca Juga: Bisnis batubara lesu gerus permintaan amonium nitrat, Ancora (OKAS) cari pasar baru
Sebagai informasi, dari sisi saham dan kapitalisasi pasar, tercatat bahwa harga saham ADRO ditutup pada Rp 995 pada akhir semester I-2020, atau turun 27% dibandingkan akhir Semester I-2019 yang tercatat pada Rp 1.360.
Kapitalisasi pasar ADRO pada akhir semester I 2020 mencapai US$ 2,1 miliar, atau turun 29% dari US$ 3,1 miliar pada akhir semester I 2019. Pada akhir semester I 2020, total pemegang saham publik tercatat 36,17%. Dari pemegang saham publik, 44% merupakan pemegang saham domestik dan sisanya merupakan pemegang saham asing.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News