Reporter: Rilanda Virasma | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar sewa perkantoran di Jakarta dan Surabaya ditaksir Colliers Indonesia akan tumbuh moderat hingga tahun 2028.
Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto menjelaskan, pasokan perkantoran di Jakarta dan Surabaya hingga kuartal IV-2025 sangat terbatas. Hal ini dinilai positif untuk meregulasi keseimbangan antara permintaan dan penawaran pasar perkantoran ke depan.
“Sementara untuk demand (permintaan) secara umum masih moderat di dua kota ini, tapi kita lihat memang ada pertumbuhan yang moderat, tidak terlalu besar. Kita melihat ini sebagai hal yang positif,” papar Ferry dalam media briefing Colliers Indonesia secara daring, Rabu (7/1/2026).
Baca Juga: Gelar RUPSLB Awal 2026, Eagle High Plantations Mantapkan Arah Strategis Perseroan
Di Jakarta, Ferry menambahkan sektor teknologi masih menjadi pendorong utama permintaan sewa perkantoran.
Di paruh kedua tahun 2025, Colliers Indonesia mengamati mulai menjamurnya perusahaan yang berpindah kantor seiring dengan upaya mereka untuk berekspansi.
“Ini menjadi sinyal penting bahwa kepercayaan bisnis mulai pulih, dan pelaku usaha juga sudah mulai melihat bahwa tahun 2026 ini lebih optimistis dibandingkan tahun sebelumnya,” tutur Ferry.
Tren lain yang dicermati Colliers Indonesia yakni semakin banyaknya perkantoran Jakarta yang mendekatkan diri dengan transportasi publik seperti MRT.
Prediksi Colliers Indonesia, tahun 2026 merupakan fase rebound pasar sewa perkantoran di Jakarta dengan pulihnya permintaan dan terkendalinya pasokan.
Hingga tahun 2028, pasar sewa perkantoran Jakarta diperkirakan akan menerima tambahan pasokan sekitar 200.000 meter persegi, dengan sekitar 52% berlokasi di luar kawasan pusat bisnis utama alias central business district (CBD).
Baca Juga: Proyek DME Groundbreaking Februari 2026, Bahlil Bahas Detail dengan Danantara
Di kawasan CBD, rata-rata tingkat hunian diproyeksikan tumbuh sekitar 1%–1,5% per tahun pada periode 2026–2028. Pertumbuhan ini sejalan dengan pemulihan sektor-sektor utama dan didukung oleh ramahnya iklim investasi.
Sementara itu, di luar CBD, tingkat hunian diperkirakan bertahan di kisaran 70% hingga 2028. Hal ini mencerminkan masih adanya oversupply struktural di kawasan non-CBD.
Selain itu, ketersediaan ruang kantor di CBD dengan skema sewa dan insentif yang semakin fleksibel membuat banyak calon penyewa tetap memprioritaskan lokasi CBD, baik dari sisi aksesibilitas, citra perusahaan, maupun kedekatan dengan pusat bisnis dan klien.
“Kami perkirakan yang green building, gedung-gedung yang energi efisien yang dikeluarkan dengan baik akan menjadi gedung-gedung yang akan diminati,” taksirnya.
Lain cerita di Surabaya. Colliers Indonesia memprediksi, tidak akan ada tambahan pasokan baru hingga tahun 2028. Meski demikian, tingkat hunian diperkirakan tetap tumbuh secara moderat.
Persaingan menurutnya tidak datang dari suplai gedung baru, melainkan bagaimana gedung-gedung tersebut akan beradaptasi, khususnya untuk menghadapi ketatnya persaingan dengan ruko.
Baca Juga: PLN Catat Konsumsi Listrik Kendaraan Listrik Melonjak 479% Selama Nataru
“Karena ruko ini lebih fleksibel dan lebih murah untuk banyak bisnis yang ada di Surabaya,” ucap Ferry.
Hingga akhir 2025, tingkat hunian perkantoran Surabaya ditaksir sebesar 65%, meningkat tipis dibanding periode sama tahun sebelumnya. Menurut Ferry, sektor keuangan, pendidikan, hingga logistik menjadi pendorong utamanya.
Ke depan, pasar sewa perkantoran Surabaya menurut Colliers Indonesia tidak hanya berputar soal lonjakan pesat, melainkan pemulihan secara bertahap. “Jadi gedung-gedung yang ada akses fleksibel dan lokasinya kuat akan menjadi pemenang pada saat nanti percaya diri sudah mulai pulih,” imbuh Ferry.
Di kesempatan lain, Wakil Ketua Umum DPP Real Estat Indonesia (REI) Bambang Ekajaya mengatakan, secara umum, pasar perkantoran Indonesia tahun ini masih dihadapi rintangan berat. Hal tersebut dipengaruhi oleh kondisi ekonomi domestik dan maraknya pola kerja work from home (WFH) maupun work from anywhere (WFA).
“Sebagian perusahaan start up bahkan lebih mengoptimalkan rumah untuk kantor sementara. Jika sudah tumbuh akan mencari ruko. Gedung perkantoran baru mereka pilih setelah mereka tumbuh berkembang, baru berbisnis di office building yang prestige,” terang Bambang saat dihubungi Kontan, Rabu (7/1/2026).
Dus, bagi investor yang hendak membangun gedung perkantoran, lokasi strategis kata Bambang mesti jadi fokus utama.
Baca Juga: Bahlil Lapor Prabowo: Lifting Minyak 2025 Tembus Target APBN
Salah satu pilihan model gedung perkantoran kata dia yakni mixuse sehingga saling melengkapi dan terintegrasi. “Karena itu bisnis perkantoran lebih untuk developer-developer besar dengan dana besar dan di lokasi strategis,” tutur dia.
Selanjutnya: IKEA Bakal Tutup Tujuh Toko di China, Ubah Strategi Bisnis
Menarik Dibaca: KAI Layani 4,17 Juta Pelanggan Selama Nataru, 75% Tiket Dibeli Lewat Access by KAI
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













