Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri pulp dan kertas nasional masih memiliki peluang untuk mengoptimalkan kapasitas produksi di tengah persaingan pasar global. Pemerintah pun mendorong peningkatan utilisasi, penguatan hilirisasi, serta efisiensi guna memperkuat daya saing sektor tersebut.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat utilisasi industri agro masih sekitar 60,78% pada kuartal I 2026. Angka tersebut menunjukkan masih adanya ruang peningkatan utilisasi hingga 80% atau lebih.
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengatakan, peningkatan utilisasi perlu didukung penyelesaian berbagai persoalan yang masih dihadapi pelaku industri. Hal ini disampaikan saat membuka Kongres Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) 2026 di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Menurut Sarmuji, momentum perbaikan aktivitas manufaktur nasional menjadi peluang bagi industri pulp dan kertas untuk meningkatkan kinerja. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 mencapai 54,0, sedangkan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) berada di level 53,77.
Baca Juga: PLN EPI Proyeksikan Kebutuhan DMO Batubara 2027 Naik Jadi 173,83 Juta Ton
“Mari kita manfaatkan sinyal positif ini, tahap ekspansi ini kita jaga sama-sama, kita manfaatkan momentum ini supaya kita bisa tumbuh lebih tinggi lagi,” ujar Sarmuji di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Berdasarkan data Kemenperin, produksi pulp nasional pada 2025 mencapai 11,69 juta ton dengan kapasitas terpasang 14,48 juta ton per tahun. Sementara itu, produksi kertas mencapai 18,65 juta ton dari kapasitas terpasang 25,37 juta ton per tahun.
Dari sisi perdagangan, industri pulp dan kertas konsisten mencatat surplus sepanjang 2021–2025. Nilai ekspor industri tersebut mencapai sekitar US$ 8,2 miliar pada 2025.
Kinerja ekspor masih menunjukkan tren positif pada semester I 2026. Nilai ekspor pulp tercatat sebesar US$ 1,68 miliar, sedangkan ekspor kertas mencapai US$ 2,35 miliar.
Industri pulp dan kertas juga berkontribusi terhadap perekonomian nasional. Sektor kertas dan percetakan menyumbang 3,73% terhadap produk domestik bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas pada 2025.
Selain itu, industri ini menyerap sekitar 290.000 tenaga kerja langsung dan 1,2 juta pekerja tidak langsung.
Sarmuji menilai, peluang pertumbuhan industri masih terbuka melalui penguatan hilirisasi. Pengembangan dapat dilakukan pada produk kemasan, tisu, hingga serat rayon untuk memenuhi kebutuhan industri tekstil.
Baca Juga: Pengusaha Minerba Soroti Pekerjaan Rumah Jelang Penerapan Ekspor Satu Pintu DSI
Pemerintah turut mendorong penguatan rantai pasok kertas daur ulang, penerapan ekonomi sirkular, serta dekarbonisasi. Dari sisi bahan baku, kepatuhan pemasok terhadap regulasi menjadi perhatian untuk mencegah perusakan hutan serta kebakaran hutan dan lahan.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum APKI Suhendra Wiriadinata mengatakan industri pulp dan kertas Indonesia memiliki posisi strategis dalam rantai pasok global. Namun, posisi tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan daya saing.
“Posisi tersebut merupakan kekuatan yang harus kita jaga, tetapi sekaligus menjadi tanggung jawab untuk terus meningkatkan daya saing,” ujar Suhendra.
Menurut dia, daya saing industri tidak lagi hanya ditentukan oleh kapasitas produksi. Efisiensi, teknologi, inovasi, kualitas sumber daya manusia, serta kemampuan menghasilkan produk bernilai tambah kini menjadi faktor yang semakin penting.
Suhendra juga menyoroti sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi pelaku industri, mulai dari kepastian kebijakan, ketersediaan energi dan bahan baku, perdagangan internasional, akses pasar, hingga tuntutan keberlanjutan.
“APKI senantiasa siap menjadi mitra pemerintah. Bagi kami, kemajuan industri membutuhkan kebijakan yang memberikan kepastian, dunia usaha yang terus berinovasi, serta komunikasi yang terbuka agar tantangan yang dihadapi industri dapat kita pahami dan diselesaikan bersama,” katanya.
Baca Juga: Bahlil Larang Ekspor SDA Lewat Negara Perantara, Ini Alasannya
Industri pulp dan kertas menghadapi tekanan kelebihan pasokan global
Dari sisi pasar global, Minnie Kong, Asia Pulp Economist Fastmarkets RISI, menilai industri pulp dan kertas masih menghadapi tekanan kelebihan pasokan di sejumlah segmen.
Dalam Kongres APKI 2026, ia menyoroti surplus kapasitas pada pasar kertas kemasan serta kertas cetak dan tulis. Pasar tisu juga menghadapi tekanan seiring bertambahnya kapasitas produksi.
Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah APKI menunjukkan volume ekspor pulp Indonesia pada 2025 tumbuh 7,9% secara tahunan. Volume ekspor kertas juga meningkat 9,6%.
Dengan perkembangan tersebut, Indonesia masih mempertahankan posisi sebagai eksportir neto produk pulp dan kertas.
Kongres APKI 2026 yang berlangsung pada 3–4 November 2026 menjadi forum evaluasi sekaligus penentuan arah strategis asosiasi.
APKI menargetkan penguatan produktivitas, perluasan pasar ekspor, dan pengembangan produk bernilai tambah untuk menjaga pertumbuhan industri pulp dan kertas nasional di tengah persaingan global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














