kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   -38.000   -2,09%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Pemerintah Mengurangi Porsi Panas Bumi di Proyek 10.000 MW Tahap Kedua


Kamis, 28 Januari 2010 / 16:47 WIB
Pemerintah Mengurangi Porsi Panas Bumi di Proyek 10.000 MW Tahap Kedua


Reporter: Fitri Nur Arifenie |

JAKARTA. Direktur Jendral (Dirjen) Listrik dan Pemanfaatan Energi (LPE), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), J. Purwono mengatakan porsi panas bumi dalam proyek 10.000 Megawatt (MW) tahap II akan berkurang dari yang telah ditetapkan. Sebelumnya, pemerintah telah menetapkan potensi panas bumi dalam proyek 10.000 MW tahap II sebesar 4.700 MW. Kini, pemerintah memutuskan, porsi panas bumi dalam proyek 10.000 MW tahap II sebesar 3.900 MW.

"Terakhir setelah kita teliti dan kita pertajam kesiapan proyek, Itu memang yang masuk dalam proyek 10.000 tahap II sebesar 3.900 MW. Karena kita pilih-pilih proyek yang memang diharapkan bisa selesai 2014," ujar J. Purwono, Kamis (28/01). Menurut Purwono, ketentuan tersebut sudah final ada dalam Peraturan Menteri ESDM. Hanya tinggal menunggu tanda tangan dari Menteri ESDM.

Purwono menceritakan, dalam penentuan rencana semula, tidak melihat kemungkinan waktu selesai. Kemudian setelah melakukan kajian lebih dalam, yang optimis selesai 2010 hingga 2014 sebesar 3.900 MW. Ia menegaskan bahwa, bukan jumlah proyeknya yang dikurangi melainkan kapasitas proyek tersebut. "Misalnya tadinya cuma 2 x 110 MW, tapi kita lihat dalam empat tahun ke depan paling hanya 1 unit atau 2 x 55 MW," terang Purwono.

Pertimbangan waktu tersebut, kata Purwono karena pemerintah ingin segera menyelesaikan program 10.000 MW tahap II. Sedangkan kebanyakan proyek panas bumi masih dalam studi awal dan eksplorasi. Kemudian masih melalui proses tender dan baru eksploitasi. Sehingga pembangunan pembangkit panas bumi membutuhkan waktu yang lebih lama. "Karena sebagian besar geothermal masih dalam pendataan awal," kata Purwono.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×