Reporter: Leni Wandira | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Platform kecerdasan buatan (AI) generatif semakin berperan dalam proses pencarian informasi dan produk oleh konsumen. Perubahan perilaku ini memaksa perusahaan dan pemilik merek untuk mulai menyesuaikan strategi pemasaran digital agar tetap mudah ditemukan di era AI.
Pergeseran tersebut diperkirakan akan terus berlanjut. Gartner memprediksi volume penggunaan mesin pencari tradisional akan turun hingga 25 persen pada 2026 seiring meningkatnya penggunaan chatbot AI dan virtual agents sebagai sumber informasi.
Sementara itu, Adobe Analytics mencatat traffic dari platform AI generatif ke situs retail meningkat hingga 1.200 persen dalam kurun tujuh bulan terakhir, menunjukkan AI mulai berperan sebagai jalur baru bagi konsumen dalam menemukan informasi, produk, dan layanan.
Co-Founder & Partner Avonetiq, Alexandro Wibowo, mengatakan perubahan tersebut menandai pergeseran besar dalam lanskap pemasaran digital yang selama ini didominasi oleh mesin pencari.
"Selama bertahun-tahun, perusahaan mengukur keberhasilan kehadiran digital melalui peringkat pencarian, traffic website, atau engagement. Namun ketika konsumen mulai bertanya langsung kepada AI, metrik tersebut tidak lagi cukup untuk menggambarkan bagaimana sebuah brand ditemukan dan dipertimbangkan. Di sinilah kebutuhan baru mulai muncul," ujarnya di Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Baca Juga: Platform E-Commerce Kerek Biaya Layanan Logistik, Segini Besarannya
Menurut Alexandro, saat ini perusahaan tidak hanya perlu memastikan situs mereka muncul di hasil pencarian Google, tetapi juga harus memahami bagaimana merek mereka direpresentasikan dalam jawaban AI seperti ChatGPT, Gemini, Claude, Perplexity, hingga Google AI Overview.
Ia menilai perusahaan yang mampu membangun otoritas dan representasi yang kuat di platform AI akan memiliki peluang lebih besar untuk masuk dalam pertimbangan konsumen sejak tahap awal pengambilan keputusan.
Co-Founder & Partner Avonetiq, Ryan Gondokusumo, menambahkan bahwa perubahan ini juga membuat persaingan antarbrand semakin ketat. Jika sebelumnya konsumen dapat melihat banyak pilihan melalui mesin pencari, AI umumnya hanya menampilkan beberapa rekomendasi utama.
"Kalau zaman dulu kita main ke Google, cari sesuatu masih ada 10 listing. Sekarang tidak ada. Sekarang paling dua atau tiga brand yang muncul. Kalau brand kita tidak muncul, yang muncul kompetitor," katanya.
Menurut Ryan, kondisi tersebut membuat kebutuhan optimasi visibilitas di platform AI semakin penting, terutama bagi brand besar yang ingin menjaga pangsa pasar dan awareness di tengah perubahan perilaku konsumen.
Baca Juga: SolusiPBX Bidik Kebutuhan Komunikasi Bisnis Era Kerja Fleksibel
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Avonetiq meluncurkan AVO AI, platform yang membantu perusahaan memantau dan meningkatkan visibilitas merek di berbagai platform AI. Melalui platform tersebut, pengguna dapat melihat seberapa sering brand mereka muncul dalam jawaban AI, membandingkan posisi dengan kompetitor, hingga memperoleh rekomendasi langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk meningkatkan peluang direkomendasikan AI.
"Tools ini bukan cuma memperlihatkan skor. Tools ini benar-benar memberitahukan apa yang harus dilakukan supaya visibility dan otoritas brand meningkat," ujar Ryan.
Avonetiq menilai AI Search menjadi salah satu perubahan terbesar dalam industri pemasaran digital sejak munculnya mesin pencari modern. Jika sebelumnya fokus utama perusahaan adalah Search Engine Optimization (SEO), kini mulai muncul kebutuhan baru yang dikenal sebagai AI Optimization (AIO).
"Sebelumnya, brand fokus mencari cara agar ditemukan di mesin pencari. Sekarang tantangannya berkembang menjadi bagaimana brand direpresentasikan dalam jawaban AI. Ke depan, kemampuan sebuah brand untuk dipahami dan direkomendasikan oleh AI akan menjadi faktor penting yang memengaruhi cara konsumen menemukan, mengenal, dan mempertimbangkan sebuah produk maupun layanan," kata Alexandro.
Baca Juga: Begini Respons Blibli Soal Potensi Perubahan Biaya Admin di Platform E-commerce
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













