kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.944.000   28.000   0,96%
  • USD/IDR 16.905   -13,00   -0,08%
  • IDX 8.272   -2,31   -0,03%
  • KOMPAS100 1.164   0,60   0,05%
  • LQ45 835   1,00   0,12%
  • ISSI 295   -1,17   -0,39%
  • IDX30 437   0,09   0,02%
  • IDXHIDIV20 522   2,39   0,46%
  • IDX80 130   0,02   0,01%
  • IDXV30 143   -0,62   -0,43%
  • IDXQ30 140   0,46   0,33%

Perjanjian Dagang RI-AS, Indonesia Buka Keran Impor Bieotanol dari Amerika


Jumat, 20 Februari 2026 / 22:12 WIB
Perjanjian Dagang RI-AS, Indonesia Buka Keran Impor Bieotanol dari Amerika
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia (KONTAN/Sabrina Rhamadanty)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia menyepakati untuk tetap membuka keran impor bioetanol dari Amerika Serikat (AS) sebagai bagian dari Perjanjian Perdagangan Timbal Balik antara kedua negara yang diteken Jumat (20/2/2026).

Salah satu poin dalam perjanjian tersebut menyebut, “Indonesia tidak akan menerapkan atau mempertahankan tindakan apa pun yang mencegah impor bioetanol AS.”

Selain itu, pemerintah juga sepakat untuk terus memasok bioetanol dalam campuran bahan bakar transportasi ke AS.

Dalam rencana jangka menengah, Indonesia akan menjalankan kebijakan pasokan bahan bakar transportasi yang dicampur bioetanol secara bertahap.

Baca Juga: Pemerintah Targetkan Kewajiban Kandungan Bioetanol 10% di Bensin pada 2028

Pemerintah menargetkan pasokan E5 (5% bioetanol) pada 2028, E10 pada 2030, dan E20 (20% bioetanol) di masa mendatang, menyesuaikan ketersediaan pasokan dan kesiapan infrastruktur pendukung.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, program bioetanol ini bertujuan menekan impor bensin yang masih tinggi.

Bahlil juga mencatat, kebutuhan bensin nasional mencapai 40 juta kiloliter per tahun, namun produksi domestik baru sekitar 14 juta kiloliter.

Baca Juga: Belajar dari Brazil, Pertamina Siap Kembangkan Bioetanol E10 di 2026

Sementara kebutuhan solar (gasoil) mencapai 39 juta kiloliter per tahun, dengan produksi dalam negeri 16 juta kiloliter. Dengan penambahan kapasitas kilang dan program biodiesel B40, Indonesia diperkirakan tidak lagi mengimpor solar C48 tahun ini.

Program mandatori bioetanol juga sejalan dengan proyek Revamping Development Master Plan (RDMP) Balikpapan yang mulai beroperasi. 

Selanjutnya: Rupiah Fluktuatif Sepekan, Sentimen Global dan Defisit APBN Jadi Sorotan

Menarik Dibaca: 9 Suplemen dan Vitamin yang Dibutuhkan Wanita Usia 40 Tahun ke Atas

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×