Reporter: Leni Wandira | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengingatkan bahwa lonjakan ekspor dari kebijakan hilirisasi tidak serta-merta mencerminkan besarnya manfaat ekonomi yang benar-benar dinikmati di dalam negeri.
Menurutnya, penting untuk membedakan antara nilai ekspor bruto (gross export value) dan nilai tambah domestik (domestic value added).
“Secara angka, ekspor bisa melonjak, tapi kalau input utamanya masih impor, teknologinya dari luar, dan pembiayaannya berbasis utang atau ekuitas asing, maka nilai tambah yang benar-benar tinggal di dalam negeri bisa jauh lebih kecil,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Rabu (29/4/2026).
Baca Juga: Dampak Lonjakan Harga dan Kelangkaan Sulfur: Smelter Cemas, HPAL Pangkas Produksi
Yusuf menilai kondisi tersebut lazim terjadi pada tahap awal hilirisasi, ketika Indonesia masih mengandalkan keunggulan sumber daya alam, namun belum sepenuhnya menguasai teknologi dan rantai pasok industri.
Meski begitu, ia menegaskan hilirisasi tetap penting sebagai strategi untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah serta meredam dampak fluktuasi harga komoditas global.
Manfaat Hilirisasi: Dari Substitusi Impor hingga Dorong Industri
Dari sisi manfaat, Yusuf memaparkan beberapa kanal utama. Pertama, substitusi impor, khususnya di sektor energi dan bahan baku industri.
Peningkatan kapasitas kilang, misalnya, dapat menekan impor BBM sekaligus memperbaiki neraca perdagangan dan menjaga stabilitas nilai tukar.
Baca Juga: Tumbuh 2,79%, Belanja Suku Cadang Semen Indonesia (SMGR) Tembus Rp 809 Miliar
Kedua, peningkatan nilai ekspor karena produk olahan memiliki harga lebih tinggi dibandingkan bahan mentah.
Ketiga, dorongan terhadap sektor manufaktur melalui peningkatan kontribusi industri pengolahan terhadap produk domestik bruto (PDB).
Risiko: Efisiensi Proyek dan Beban Fiskal
Namun demikian, Yusuf mengingatkan adanya sejumlah risiko yang perlu diantisipasi, terutama terkait efisiensi proyek dan skema pembiayaan.
“Banyak proyek ini dijalankan oleh BUMN dengan investasi besar dan periode balik modal yang panjang. Kalau asumsi harga komoditas terlalu optimistis atau biaya produksi tidak kompetitif, proyek bisa underperform,” jelasnya.
Dalam kondisi tersebut, berpotensi muncul contingent liability atau kewajiban tidak langsung yang pada akhirnya bisa membebani keuangan negara.
Baca Juga: Hilirisasi Dongkrak Ekspor, Tapi Risiko Lingkungan dan Energi Membayangi
Serapan Tenaga Kerja Terbatas
Dari sisi ketenagakerjaan, Yusuf menilai hilirisasi bukanlah solusi utama untuk penciptaan lapangan kerja dalam skala besar.
Hal ini karena sektor seperti smelter, kilang, maupun petrokimia bersifat padat modal (capital intensive).
“Rasio investasi terhadap tenaga kerja tinggi, jadi serapannya terbatas,” ujarnya.
Meski ada efek berganda ke sektor pendukung, kontribusinya dinilai tetap lebih kecil dibandingkan sektor padat karya seperti tekstil atau manufaktur ringan.
Oleh karena itu, hilirisasi lebih tepat diposisikan sebagai strategi peningkatan produktivitas ketimbang mesin penciptaan lapangan kerja massal.
Baca Juga: Kilang Bensin Cilacap–Dumai Ditargetkan Tekan Impor BBM US$1,25 Miliar
Tantangan Linkage Industri
Dari perspektif pertumbuhan ekonomi, Yusuf menilai kontribusi hilirisasi tetap ada, tetapi tidak akan menjadi faktor dominan. Tantangan utama terletak pada keterkaitan antarindustri (linkage).
“Apakah output seperti baja, tembaga, atau petrokimia bisa diserap industri domestik, atau kembali diekspor sebagai barang antara,” katanya.
Jika produk hilirisasi masih didominasi ekspor barang setengah jadi, Indonesia berisiko berhenti pada tahap hilirisasi awal dan kehilangan sebagian potensi nilai tambah.
Baca Juga: Optimalkan Armada dan Cuaca Baik, Volume OB Samindo Naik 10% di Kuartal I-2026
Tekanan Global dan Kunci Keberhasilan
Di tingkat global, tantangan juga datang dari kondisi kelebihan pasokan (oversupply) sejumlah komoditas serta standar lingkungan yang semakin ketat, termasuk kebijakan karbon di negara maju.
Dengan berbagai dinamika tersebut, Yusuf menekankan bahwa keberhasilan hilirisasi sangat bergantung pada penguatan penguasaan teknologi, pengembangan rantai pasok domestik, serta kemampuan menciptakan industri lanjutan di dalam negeri.
“Kalau tidak, nilai tambahnya bisa bocor ke luar,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













