Reporter: Vina Elvira | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek industri pergudangan logistik masih terjaga hingga paruh kedua 2026. CBRE Indonesia mengatakan, tingginya tingkat keterisian gudang, permintaan yang tetap solid, serta minimnya tambahan pasokan baru menjadi penopang utama kinerja segmen properti ini.
Head of Industrial & Logistics Services sekaligus Senior Director Capital Markets CBRE Indonesia Ivana Susilo mengatakan, pergudangan logistik masih menjadi salah satu segmen properti dengan imbal hasil (return on investment/RoI) yang paling menarik.
Menurutnya, hal itu didukung oleh tingkat okupansi yang konsisten berada di level tinggi serta permintaan yang terus bertumbuh dalam beberapa tahun terakhir.
“Tingkat okupansi tetap berada di dekat level puncaknya, yaitu sekitar 98%. Kekuatan permintaan yang konsisten juga tercermin dari tingkat penyerapan tahunan secara keseluruhan, yang mencapai 308.700 meter persegi per tahun selama tiga tahun terakhir," ujar Ivana kepada Kontan, Minggu (11/7/2026) lalu.
Baca Juga: Nasib Petani Tembakau Terancam, APTI Tolak Wacana Penyeragaman Kemasan Rokok
CBRE memproyeksikan permintaan ruang gudang tetap kuat hingga akhir tahun ini. Permintaan tersebut masih akan ditopang oleh sejumlah sektor utama, terutama e-commerce, barang konsumsi yang bergerak cepat (fast moving consumer goods/FMCG), serta industri otomotif termasuk kendaraan listrik (electric vehicle/EV).
Di tengah pelemahan daya beli masyarakat, CBRE belum melihat adanya dampak signifikan terhadap permintaan ruang pergudangan. Sebab, penurunan nilai konsumsi belum tentu diikuti dengan penurunan volume barang yang dibeli masyarakat.
“Kemungkinan hal ini terjadi karena masyarakat beralih membeli produk yang lebih murah, sehingga menyebabkan penurunan nilai transaksi total, namun bukan berarti mereka membeli lebih sedikit produk secara keseluruhan," katanya.
Dari sisi fundamental pasar, CBRE memperkirakan tingkat okupansi gudang akan tetap ketat hingga akhir 2026. Sedangkan untuk tarif sewa diproyeksikan cenderung stabil lantaran belum ada tambahan pasokan gudang baru yang masuk ke pasar sepanjang sisa tahun ini.
Sementara itu, minat investor asing terhadap aset pergudangan di Indonesia masih terjaga meski tidak seagresif beberapa tahun lalu. Menurut CBRE, investor asal Tiongkok masih menjadi kelompok yang paling aktif menjajaki peluang investasi di sektor ini.
Baca Juga: Kadin Optimistis Manufaktur Masih Tumbuh hingga Akhir 2026, Ini Kuncinya
Dari sisi pengembangan kawasan, Metro Jakarta masih menjadi lokasi paling prospektif bagi pengembang gudang logistik. Namun, tingginya harga lahan menjadi tantangan utama yang membatasi ekspansi di wilayah tersebut.
Selain itu, pelaku usaha juga masih dihadapkan pada sejumlah tantangan lain, mulai dari memperoleh lahan strategis dengan harga yang kompetitif, mengelola kenaikan biaya konstruksi di tengah penguatan dolar AS, hingga meningkatnya biaya pendanaan akibat suku bunga pinjaman yang masih relatif tinggi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














