Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli
Menurut Anggawira, setidaknya ada lima jalur diversifikasi yang realistis dilakukan oleh perusahaan batubara. Pertama, sektor critical minerals dan hilirisasi mineral. Transformasi jalur ini telah ditempuh oleh HRUM yang masuk ke dalam ekosistem industri nikel.
Kedua, energi baru dan terbarukan. Perusahaan tambang mempunyai modal, lahan dan infrastruktur yang bisa dikembangkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), air, biomassa, panas bumi maupun sistem penyimpanan energi.
Ketiga, mengubah bekas tambang menjadi economic assets. Menurut Anggawira, lahan pascatambang idealnya tidak hanya dilihat sebagai liability reklamasi.
Dengan perencanaan sejak awal, sebagian kawasan dapat dikembangkan menjadi solar farm, biomass plantation, reservoir/pumped-storage, kawasan industri hijau, agroforestry sampai pusat ekonomi baru sepanjang memenuhi ketentuan lingkungan dan tata ruang.
Baca Juga: PTBA Produksi Batubara 19,45 Juta Ton di Semester I-2026, Penjualan 21,10 Juta Ton
Keempat, waste-to-value dan circular economy, termasuk bisnis pengelolaan limbah. Kelima, infrastruktur energi baru termasuk ekosistem kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV), baterai, bioenergy, gas infrastructure, carbon management hingga energy services.
Sementara itu, Direktur Institute for Development of Economics and Finance - Green Transition Initiative (Indef - GTI) Imaduddin Abdullah menyoroti bahwa diversifikasi perusahaan batubara bisa dilakukan melalui dua jalur. Pertama, diversifikasi vertical ke bisnis yang masih dalam satu pohon industri seperti hilirisasi batubara.
Kedua, diversifikasi horizontal ke bisnis yang berbeda seperti investasi di sektor mineral kritis atau ekosistem EV. Imaduddin menegaskan, diversifikasi bisnis harus tetap memiliki dasar komersial yang kuat. Bisnis baru mesti mampu menghasilkan revenue, profitabilitas, menciptakan lapangan kerja, dan pada akhirnya mampu berdiri tanpa terus-menerus bergantung pada cash flow dari batubara.
"Selama bisnis batubara masih memberikan return yang kompetitif, manajemen akan menghadapi trade-off antara menempatkan modal pada bisnis yang sudah mereka pahami atau pada bisnis baru yang memiliki risiko teknologi, pasar, dan eksekusi yang lebih tinggi. Karena itu, harus realistis bahwa diversifikasi membutuhkan waktu. Ada proses yang cukup panjang dari announcement, capital allocation, pembangunan operasi, menghasilkan revenue, hingga menghasilkan profit," terang Imaduddin.
Baca Juga: Batubara Indonesia Dijual di Bawah Harga Wajar, Danantara Didorong Verifikasi Harga
Tak hanya dari sisi korporasi, Imaduddin menilai perlu ada dukungan dari pemerintah untuk mendorong perusahaan mengurangi ketergantungan terhadap eksposur batubara. "Peran pemerintah menjadi penting. Menciptakan insentif dan kondisi pasar agar diversifikasi menjadi keputusan bisnis yang masuk akal," tandas Imaduddin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














