Reporter: Genta Disa | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peternak ayam petelur masih menghadapi tekanan usaha di tengah harga jual telur yang belum membaik dan biaya pakan yang tinggi. Kondisi ini mendorong peternak melakukan afkir dini ayam produktif hingga 35% serta menunda peremajaan populasi.
Ketua Umum Asosiasi Peternak Layer Nasional, Musbar Mesdi mengatakan, harga telur di tingkat peternak saat ini berada di kisaran Rp 19.000–Rp 22.000 per kilogram (kg). Sebagai solusi, peternak telah mengurangi populasi ayam untuk menyesuaikan pasokan dengan kondisi pasar.
“Karena permasalahan utamanya, kita sudah afkir, harga juga tidak bisa naik. Katanya oversupply, kita afkir sampai 30%, malah ada yang udah tutup ayamnya, tetap juga tidak naik,” ujar Musbar kepada Kontan, Senin (26/10/2026).
Baca Juga: Bermitra dengan Intercipta, Pinhome Ekspansi ke Pengelolaan Properti Skala Besar
Menurutnya, peternak yang biasanya melakukan afkir ayam pada umur sekitar 100 minggu kini mempercepatnya menjadi sekitar 80 minggu. Peternak juga menunda peremajaan dengan mengurangi pengadaan ayam dara berumur 15–17 minggu karena harga jual telur belum cukup mendukung keberlanjutan usaha.
Tekanan semakin besar karena harga bahan baku pakan masih tinggi. Musbar menyebut harga jagung berada di kisaran Rp 7.800–Rp 8.200 per kg, sedangkan pakan jadi atau complete feed mencapai Rp 7.800–Rp 8.000 per kg.
“Di satu sisi, harga pakan sekarang sama dengan harga jagung. Ini belum pernah terjadi dalam sejarah Negara Republik Indonesia,” katanya.
Selain jagung, harga katul atau dedak juga meningkat menjadi sekitar Rp 6.000–Rp 6.500 per kg dari sebelumnya Rp 3.000–Rp 4.000 per kg. Ia mengaitkan kenaikan harga bahan pakan tersebut dengan kekeringan berkepanjangan atau fenomena El-Nino yang mengganggu hasil panen padi dan jagung.
Menurutnya, dampak kekeringan tidak hanya dirasakan petani melalui penurunan hasil panen, tetapi juga memengaruhi pendapatan masyarakat di pedesaan. Kondisi itu dinilai ikut melemahkan daya beli masyarakat terhadap telur.
“Kalau tidak ada panen, berarti income di tingkat desa itu menurun. Kenapa harga telur bisa Rp 21.000 di tingkat farm? Daya beli masyarakat tidak ada, karena kegagalan panen karena musim kekeringan yang terlalu panjang ini,” ujarnya.
Baca Juga: Investor Data Center Berskala Besar Harus Pasok Energi Sendiri, IDPRO Buka Suara
Di tingkat konsumen, Musbar mengatakan hasil survei pasar yang dilakukannya secara mandiri menunjukkan harga telur di Pasar Rawamangun berkisar Rp 23.000–Rp 24.000 per kg. Sementara itu, harga telur di supermarket tercatat sekitar Rp 21.300 per kg.
Meski peternak telah mengurangi populasi, harga telur belum menunjukkan perbaikan. Musbar memperingatkan, peternak skala menengah dan besar berpotensi kembali melakukan afkir jika harga belum membaik hingga Desember 2026.
“Kalau menengah atas sudah melakukan 35%, tidak ada perubahan harga sampai Desember, ya mereka akan afkir lagi. Karena mereka sudah kesulitan cash flow sekarang,” kata Musbar.
Ia menyebut peternak skala menengah dan besar berkontribusi sekitar 85% terhadap produksi telur nasional. Sementara itu, kelompok peternak yang tergabung melalui koperasi hanya berkontribusi sekitar 7%–8%.
Musbar menilai dukungan pemerintah kepada peternak mikro dan kecil (UMKM) melalui koperasi tetap diperlukan. Namun, ia meminta perhatian juga diberikan kepada peternak menengah dan besar mengingat besarnya kontribusi kelompok tersebut terhadap produksi nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














