kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.513   13,00   0,07%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

PLN diminta seperti Pelindo dan Angkasa Pura


Senin, 08 September 2014 / 22:23 WIB
ILUSTRASI. Logo BCA. REUTERS/Willy Kurniawan


Reporter: Hendra Gunawan | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Pengamat Ekonomi dari Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Agus Tony Poputra, meminta pemerintah untuk melakukan spin-off atau memecah PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Spin off tersebut bisa menjadi tiga atau empat perusahaan mandiri berdasarkan wilayah seperti halnya pada Pelindo dan Angkasa Pura. Dengan begitu diharapkan kinerja listrik Indonesia bisa meningkat signifikan.

"Memperhatikan kondisi kelistrikan dan pengaruhnya terhadap pemerataan pembangunan, maka PLN perlu dipecahkan (spin-off) menjadi tiga atau empat perusahaan mandiri berdasarkan wilayah," kata Tony dalam rilisnya, Senin (8/9).

Untuk pemetaannya, kata dia, Pulau Jawa dan Bali disatukan mengingat kedua daerah ini memiliki banyak industri. Sehingga PLN di wilayah itu dapat melakukan subsidi silang dengan kebutuhan listrik rumah tangga.

"Konsekuensinya, perusahaan PLN baru yang melayani kedua daerah tersebut tidak perlu atau sedikit diberikan subsidi oleh pemerintah. Sebaliknya perusahaan pecahan PLN yang lain di wilayah minus diberikan subsidi yang sesuai dengan kebutuhan," jelas Agus.

Menurut dia, strategi spin-off PLN membuat subsidi listrik tepat sasaran serta penanganan masalah listrik antar wilayah lebih terfokus dan efektif.

Pertumbuhan produksi listrik Indonesia juga belum mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi. Pada periode 2007-2011, pertumbuhan produksi listrik Indonesia rata-rata sebesar 6,41%. Angka ini di bawah Vietnam yang tumbuh rata-rata 10,30%.

"Kondisi ini menjelaskan, mengapa Vietnam yang sebelumnya sebagai Negara keterbelakang karena perang bisa melejit dengan pesat. Sebaliknya, Indonesia yang kaya dengan sumber daya alam mengalami pembangunan yang kurang berkualitas," ungkap Tony.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×