kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   14.000   0,48%
  • USD/IDR 16.830   2,00   0,01%
  • IDX 8.132   99,86   1,24%
  • KOMPAS100 1.146   13,97   1,23%
  • LQ45 829   8,49   1,03%
  • ISSI 288   4,60   1,62%
  • IDX30 431   4,26   1,00%
  • IDXHIDIV20 519   5,74   1,12%
  • IDX80 128   1,62   1,28%
  • IDXV30 141   1,99   1,43%
  • IDXQ30 140   1,49   1,07%

Polemik Kuota Hangus, Operator & Komdigi Harus Sosialisasi dan Mengedukasi Masyarakat


Kamis, 10 Juli 2025 / 22:18 WIB
Polemik Kuota Hangus, Operator & Komdigi Harus Sosialisasi dan Mengedukasi Masyarakat
ILUSTRASI. Penjual nomor perdana kartu prabayar telepon seluler ditemani anaknya menunggu calon pembeli di sebuah konter penjualan data internet di Jakarta, Minggu (04/10/2020). KONTAN/Fransiskus Simbolon


Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Polemik kuota data internet kartu prabayar terus bergulir. Konsumen berpandangan, seharusnya barang dan jasa yang telah dibeli menjadi hak mereka sepenuhnya, tanpa dibatasi ketentuan yang merugikan.

Sementara para operator telekomunikasi seluler berlindung di balik kelaziman praktik bisnis dan peraturan menteri. "Penetapan harga, kuota, dan masa aktif layanan prabayar sesuai aturan yang berlaku yaitu Pasal 74 Ayat 2 PM Kominfo No. 5 Tahun 2021 yang menyatakan, deposit prabayar memiliki batas waktu penggunaan," tegas Marwan O. Baasir, Direktur Eksekutif Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Indonesia (ATSI), belum lama ini. 

Ini juga sejalan dengan ketentuan Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan, yang menegaskan bahwa pulsa bukan merupakan alat pembayaran sah  maupun  uang elektronik. Sehingga  sudah dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), sebagaimana barang konsumsi lain.

Baca Juga: Kuota Internet Hangus, Konsumen Merasa Dirugikan, Operator Berlindung di Balik Aturan .

Trubus Rahardiansah, pakar kebijakan publik menyatakan, polemik itu menunjukkan kurangnya literasi terhadap produk operator telekomunikasi. 

Menurutnya, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama para pelaku industri  telekomunikasi sebaiknya memberikan sosialisasi dan penjelasan ke masyarakat.. Langkah ini penting untuk mencegah kesalahpahaman yang dapat menimbulkan kegelisahan di tengah masyarakat,” tegas dosen Fakultas Hukum Usakti tersebut, dalam keterangannya, Kamis (10/7). 

Sosialisasi bisa langsung maupun melalui lembaga perlindungan konsumen. Publik juga harus diedukasi. Jangan sampai membutuhkan kuota sedikit, tapi membeli produk operator telekomunikasi dengan kuota yang besar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×