kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.818.000   -42.000   -1,47%
  • USD/IDR 17.142   28,00   0,16%
  • IDX 7.493   34,24   0,46%
  • KOMPAS100 1.036   6,95   0,67%
  • LQ45 746   -0,65   -0,09%
  • ISSI 271   2,08   0,77%
  • IDX30 400   -0,73   -0,18%
  • IDXHIDIV20 486   -4,36   -0,89%
  • IDX80 116   0,49   0,43%
  • IDXV30 135   -0,15   -0,11%
  • IDXQ30 128   -1,20   -0,93%

Produksi alat konversi sebaiknya 4.000 unit


Jumat, 03 Februari 2012 / 18:11 WIB
ILUSTRASI. PT XL Axiata Tbk (EXCL)


Reporter: Sofyan Nur Hidayat | Editor: Asnil Amri

JAKARTA. MS Hidayat, Menteri Perindustrian tetap mendukung keberadaan industri alat konversi walaupun program pelaksanaan pembatasan nanti BBM tertunda.

Agar alat konversi bisa dijual komersial, Hidayat mengusulkan agar industri memproduksi dalam jumlah banyak. "Idealnya alat konversi memenuhi permintaan komersial jika produksi 4.000 unit per bulan," terang Hidayat di Jakarta, Jumat (3/2).

Hidayat menjelaskan, teknologi pembuatan alat konversi telah dikuasai industri dalam negeri, termasuk pembuatan tangki, bar pressure, switching, katup atau valve, housing untuk regulator dan ECU, pipa dan clam.

Sedangkan teknologi yang belum dikuasai sepenuhnya, Kementerian Perindustrian akan meneken nota kesepahaman (MoU) kerja sama dengan dua produsen utama alat konversi, yaitu Landi Renzo dari Italia dan Dymco dari Korea Selatan.

Sementara, industri dalam negeri yang akan memproduksi alat konversi itu antara lain: PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad dan PT Wijaya Karya Tbk. Untuk menjamin kualitas konverter kit yang diproduksi, Kementerian Perindustrian dalam waktu dekat akan menerbitkan standar nasional Indonesia (SNI).

Hidayat, Menteri Perindustrian akan mendukung keberadaan industri alat konversi walaupun ada penundaan pembatasan BBM. "Idealnya alat konversi memenuhi permintaan 4.000 unit per bulan," terang Hidayat di Jakarta, Jumat (3/2).

Hidayat menjelaskan, teknologi pembuatan alat konversi telah dikuasai industri dalam negeri, termasuk pembuatan tangki, bar pressure, switching, katup atau valve, housing untuk regulator dan ECU, pipa dan clam.

Adapun teknologi yang belum dikuasai sepenuhnya, Kementerian Perindustrian akan meneken nota kesepahaman (MoU) kerja sama dengan dua produsen utama alat konversi, yaitu Landi Renzo dari Italia dan Dymco dari Korea Selatan.

Sementara itu, industri dalam negeri yang akan memproduksi alat konversi itu antara lain: PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad dan PT Wijaya Karya Tbk. Untuk menjamin kualitas konverter kit yang diproduksi, Kementerian Perindustrian dalam waktu dekat akan menerbitkan standar nasional Indonesia (SNI).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×