kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.913   -79,00   -0,44%
  • IDX 6.037   27,39   0,46%
  • KOMPAS100 777   3,53   0,46%
  • LQ45 595   3,08   0,52%
  • ISSI 210   1,46   0,70%
  • IDX30 331   2,54   0,77%
  • IDXHIDIV20 423   3,72   0,89%
  • IDX80 89   0,46   0,52%
  • IDXV30 115   0,93   0,82%
  • IDXQ30 108   0,61   0,57%

Produksi alat konversi sebaiknya 4.000 unit


Jumat, 03 Februari 2012 / 18:11 WIB
ILUSTRASI. PT XL Axiata Tbk (EXCL)


Reporter: Sofyan Nur Hidayat | Editor: Asnil Amri

JAKARTA. MS Hidayat, Menteri Perindustrian tetap mendukung keberadaan industri alat konversi walaupun program pelaksanaan pembatasan nanti BBM tertunda.

Agar alat konversi bisa dijual komersial, Hidayat mengusulkan agar industri memproduksi dalam jumlah banyak. "Idealnya alat konversi memenuhi permintaan komersial jika produksi 4.000 unit per bulan," terang Hidayat di Jakarta, Jumat (3/2).

Hidayat menjelaskan, teknologi pembuatan alat konversi telah dikuasai industri dalam negeri, termasuk pembuatan tangki, bar pressure, switching, katup atau valve, housing untuk regulator dan ECU, pipa dan clam.

Sedangkan teknologi yang belum dikuasai sepenuhnya, Kementerian Perindustrian akan meneken nota kesepahaman (MoU) kerja sama dengan dua produsen utama alat konversi, yaitu Landi Renzo dari Italia dan Dymco dari Korea Selatan.

Sementara, industri dalam negeri yang akan memproduksi alat konversi itu antara lain: PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad dan PT Wijaya Karya Tbk. Untuk menjamin kualitas konverter kit yang diproduksi, Kementerian Perindustrian dalam waktu dekat akan menerbitkan standar nasional Indonesia (SNI).

Hidayat, Menteri Perindustrian akan mendukung keberadaan industri alat konversi walaupun ada penundaan pembatasan BBM. "Idealnya alat konversi memenuhi permintaan 4.000 unit per bulan," terang Hidayat di Jakarta, Jumat (3/2).

Hidayat menjelaskan, teknologi pembuatan alat konversi telah dikuasai industri dalam negeri, termasuk pembuatan tangki, bar pressure, switching, katup atau valve, housing untuk regulator dan ECU, pipa dan clam.

Adapun teknologi yang belum dikuasai sepenuhnya, Kementerian Perindustrian akan meneken nota kesepahaman (MoU) kerja sama dengan dua produsen utama alat konversi, yaitu Landi Renzo dari Italia dan Dymco dari Korea Selatan.

Sementara itu, industri dalam negeri yang akan memproduksi alat konversi itu antara lain: PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad dan PT Wijaya Karya Tbk. Untuk menjamin kualitas konverter kit yang diproduksi, Kementerian Perindustrian dalam waktu dekat akan menerbitkan standar nasional Indonesia (SNI).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×