kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

Butuh alat konversi, pemerintah gandeng Italia


Senin, 30 Januari 2012 / 13:22 WIB
Butuh alat konversi, pemerintah gandeng Italia
ILUSTRASI. Wakil Direktur Utama 3 Indonesia Danny Buldansyah


Reporter: Dea Chadiza Syafina | Editor: Asnil Amri

JAKARTA. Indonesia menjalin kerjasama teknis untuk program pengadaan alat konversi beserta tabungnya dengan industri terkait dari Italia dan Korea Selatan. Kerjasama bertujuan untuk membantu proses produksi alat konversi secara mandiri oleh perusahaan dalam negeri, seperti PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad, maupun PT Wijaya Karya.

Perusahaan asal Italia yang ditunjuk pemerintah yang membantu pembuatan alat konversi itu adalah, Lendi Renso. Sementara, perusahaan Korea Selatan yang ditunjuk pemerintah adalah Dymco, yang telah memasang 34.000 alat konversi untuk kendaraan di negeri ginseng itu. "Perusahaan dari Italia itu sudah memproduksi dan ekspor alat konversi ke 60 negara," terang MS Hidayat di Jakarta, pada Senin (30/1).

Hidayat menyatakan, sejumlah perusahaan BUMN yang akan memproduksi alat konversi sudah sepakat untuk saling kerjasama dalam pengembangan teknologi. "Sementara kami menjalin kesepakatan dengan perusahaan Italia untuk pengembangan teknologi green," jelas Hidayat.

Kerjasama dengan perusahaan asing itu, menurut Hidayat akan terwujud dalam hal pelatihan teknisi pemasangan alat konversi di Indonesia. Rencananya, teknisi alat konversi wajib memiliki sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga sertifikasi.

"Bengkel-bengkel yang memasangnya harus ditunjuk, dan teknisinya punya sertifikat," terang Hidayat yang mengaku sedang menyusun sertifikasi untuk teknisi tersebut.

Dalam program konversi ke bahan bakar gas (BBG) tersebut, pemerintah merencanakan untuk memproduksi 225.000 unit alat konversi. Sementara alokasi untuk impor hanya sebanyak 25.000 unit. “Untuk impor alat konversi hanya selama 6 bulan saja, setelah itu kita produksi secara mandiri," tandas Hidayat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×