kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Produksi Plywood Kuartal I-2026 Turun 10%–20%, Industri Hadapi Tekanan Global


Senin, 04 Mei 2026 / 22:11 WIB
Produksi Plywood Kuartal I-2026 Turun 10%–20%, Industri Hadapi Tekanan Global
ILUSTRASI. Ekspor Furnitur Naik 30 Persen, Kemenperin Optimalkan Restrukturisasi Mesin IKM (Dok/Kemenperin)


Reporter: Zendy Pradana | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Industri kayu olahan atau plywood di Indonesia mengalami tekanan pada awal tahun 2026. Pada Kuartal I-2026, produksi tercatat menurun sekitar 10–20% dibandingkan periode sebelumnya, mencerminkan melemahnya kondisi industri di tengah dinamika global dan domestik.

Penurunan ini menjadi sinyal penting bagi pelaku industri, khususnya sektor furnitur dan kerajinan yang sangat bergantung pada pasokan kayu olahan sebagai bahan baku utama.

Faktor Penyebab Penurunan Produksi Plywood

Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) mengidentifikasi sejumlah faktor utama yang menyebabkan penurunan produksi tersebut. Di antaranya adalah pelemahan permintaan global (global demand), ketidakpastian regulasi di dalam negeri, struktur industri yang belum efisien, serta meningkatnya tekanan daya saing dari negara lain.

Baca Juga: HIMKI Ungkap Faktor Penyebab Turunnya Produksi Kayu Lapis di Kuartal I-2026

Kondisi ini memperlihatkan bahwa industri kayu olahan tidak hanya menghadapi tantangan dari sisi pasar ekspor, tetapi juga dari aspek internal yang mempengaruhi efisiensi dan keberlanjutan produksi.

Strategi HIMKI Hadapi Perlambatan Industri

Menanggapi situasi tersebut, Ketua Umum HIMKI, Abdul Sobur, menegaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk mengantisipasi dampak penurunan produksi kayu olahan. Strategi ini dibagi ke dalam tiga horizon waktu, yaitu jangka pendek, menengah, dan panjang.

Untuk jangka pendek, HIMKI fokus pada upaya menjaga stabilitas pasar ekspor, mengawal kebijakan agar tidak membebani industri hilir, serta mempertahankan tingkat utilisasi industri anggota agar tetap berjalan optimal.

Sementara itu, untuk jangka menengah, langkah yang ditempuh mencakup perluasan penetrasi ke pasar baru atau non-tradisional, peningkatan kualitas serta desain produk agar naik kelas, dan penguatan kolaborasi antara sektor hulu dan hilir.

Baca Juga: HIMKI: Produksi Kayu Olahan Turun 20% pada Kuartal I-2026

Abdul Sobur menegaskan bahwa tantangan yang dihadapi industri saat ini tidak semata-mata berkaitan dengan ketersediaan bahan baku.

"Penurunan produksi kayu hari ini bukan semata masalah pasokan, tetapi sinyal bahwa kita harus segera memperkuat daya saing industri hilir agar kayu Indonesia tidak hanya diekspor sebagai bahan, tetapi sebagai produk bernilai tinggi," ujar Abdul kepada Kontan, Senin (4/5/2026).

Transformasi Jangka Panjang Industri Kayu

Dalam jangka panjang, HIMKI mendorong transformasi struktural industri dari resource-based industry menjadi value-based industry. Transformasi ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah produk kayu Indonesia di pasar global.

Selain itu, HIMKI juga menargetkan Indonesia dapat berkembang menjadi global production base untuk industri furnitur dan kerajinan. Dengan strategi tersebut, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga pemain utama dalam rantai nilai global industri kayu olahan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×