kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.675.000   10.000   0,38%
  • USD/IDR 16.910   28,00   0,17%
  • IDX 9.075   42,82   0,47%
  • KOMPAS100 1.256   8,05   0,64%
  • LQ45 889   7,35   0,83%
  • ISSI 330   0,23   0,07%
  • IDX30 452   3,62   0,81%
  • IDXHIDIV20 533   4,12   0,78%
  • IDX80 140   0,85   0,61%
  • IDXV30 147   0,15   0,10%
  • IDXQ30 145   1,19   0,83%

Prospek Industri Busana Muslim Indonesia Terbentur Serbuan Produk Impor


Senin, 18 Agustus 2025 / 16:03 WIB
Prospek Industri Busana Muslim Indonesia Terbentur Serbuan Produk Impor
ILUSTRASI. Potensi Industri Halal: Calon konsumen melihat busana muslim di Halal Park, Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (28/7). KONTAN/Baihaki/28/7/2019. APSyFI menilai derasnya arus barang impor murah menjadi tantangan utama dalam pengembangan industri busana muslim nasional.


Reporter: Shintia Rahma Islamiati | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) menilai derasnya arus barang impor murah menjadi tantangan utama dalam pengembangan industri busana muslim nasional.

Kondisi ini membuat produk lokal sulit bersaing, bahkan di pasar domestik sekalipun.

Ketua Umum APSyFI, Redma Gita Wirawasta, mengatakan potensi Indonesia untuk menjadi kiblat fashion muslim dunia sangat besar, namun hingga kini belum tergarap serius.

“Indonesia sebenarnya punya peluang besar, tapi bahkan untuk menguasai pasar domestik saja masih jauh, karena pasar masih dikuasai barang impor,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (15/8/2025).

Baca Juga: Industri TPT Belum Rasakan Kenaikan Indeks Manufaktur, Tunggu Efek Aturan Impor Baru

Redma menuturkan kapasitas produksi serat dan benang di dalam negeri sebenarnya sudah mencukupi. 

Kapasitas serat polyester dan rayon terpasang mencapai 1,6 juta ton per tahun, sementara kapasitas benang filamen dan pintal mencapai 2 juta ton per tahun.

Namun, hambatan justru muncul di industri mid-stream yang harus melakukan diversifikasi kain. 

Sektor ini sulit berkembang karena bersaing dengan impor murah, sehingga kemampuan untuk mengembangkan kain baru maupun promosi ke level global menjadi terbatas.

Menurut Redma, pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang menciptakan persaingan adil di pasar domestik. 

Dengan begitu, sektor mid-stream bisa lebih kuat dalam mendukung bahan baku industri busana muslim nasional.

“Kalau fairness competition tercipta, kita bukan hanya bisa kuasai pasar domestik, tapi juga berpeluang besar menjadi pemain utama fashion muslim dunia,” pungkasnya.

Baca Juga: Investasi Tumbuh, PHK Naik: Industri Tekstil Terancam Deindustrialisasi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×