Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Putri Werdiningsih
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT PP Tbk. (PTPP) mengarahkan diversifikasi bisnis ke segmen pertambangan di tengah lesunya permintaan proyek infrastruktur pemerintah. Langkah ini diambil dengan memanfaatkan peluang dari program hilirisasi yang tengah digencarkan secara nasional.
Corporate Secretary PTPP Joko Raharjo mengaku perseroan melihat prospek yang masih sangat besar pada pasar jasa pertambangan, khususnya di sektor infrastruktur tambang. Maka dari itu, perseroan segera menangkap momentum yang ada melalui anak usahanya PP Presisi.
“Kami terus meningkatkan kapasitas baik sebagai kontraktor fasilitas tambang maupun penyedia jasa operasional tambang.” kata Joko kepada Kontan, Jumat (29/8/2025).
Baca Juga: PTPP Garap Proyek Pembangunan PLTGU Batam Senilai Rp 3,35 Triliun
Menurutnya perseroan menargetkan kontribusi yang kian masif dari segmen jasa pertambangan, tak hanya hingga akhir tahun 2025 tetapi juga secara jangka panjang. Mengacu keuangan semester I-2025. segmen baru ini berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp 106,74 miliar, setara dengan 1,6% dari total pendapatan.
Meski masih mini, pendapatan segmen jasa pertambangan itu lebih besar ketimbang banyak segmen lain. Sebut saja segmen jalan tol yang hanya sebesar Rp 33,87 miliar, turun 5,06% secara tahunan, segmen energi sebesar Rp 28,85 miliar, turun 45,17% secara tahunan, dan segmen pracetak sebesar Rp 9,00 miliar, turun 83,54% secara tahunan.
Hingga hari ini, nilai kontrak baru (NKB) yang berhasil dikantongi perseroan senilai Rp 14,78 triliun. Segmen jasa pertambangan menjadi kontributor tertinggi, yakni sebesar 20%. Sumbangsih itu bahkan lebih dominan ketimbang segmen energi dan properti yang masing-masing sebesar 18%.
Jika dilihat dari target tahun ini, sebenarnya perolehan NKB perseroan untuk sektor pertambangan sudah melebih target. Sepanjang 2025, PTPP menargetkan NKB sebesar Rp 28,50 triliun, dengan kontribusi segmen jasa pertambangan hanya sebesar 6% atau sekitar Rp 1,71 triliun.
Joko tak menampik ada tantangan tersendiri dari segmen jasa pertambangan, yakni terkait fluktuasi harga komoditas. Namun begitu, perseroan tetap optimistis terhadap potensi pertumbuhan.
“Fokus perseroan adalah membidik kontrak baru dari pemilik IUP besar, baik BUMN maupun swasta, yang dinilai memiliki daya tahan kuat. Sektor ini diyakini tetap tumbuh berkat dukungan kebijakan hilirisasi pemerintah yang konsisten,” terangnya.
Baca Juga: PTPP Garap Proyek Akses Baru Menuju New Priok Senilai Rp 2,33 Triliun
Proyek infrastruktur pemerintah lesu
Diversifikasi bisnis yang dilakukan PTPP bukan tanpa alasan. Pada paruh pertama 2025, kinerja perseroan melorot dengan pendapatan bersih yang turun 23,71% secara tahunan menjadi Rp 6,71 triliun dan laba bersih yang tergerus 55,61% secara tahunan menjadi Rp 65,24 miliar.
Nah, penurunan itu disebabkan oleh pergeseran perolehan proyek baru, yang sebelumnya didominasi permintaan pemerintah kini menjadi dari non pemerintah.
Asal tahu saja, per hari ini proyek pemerintah PTPP hanya sebesar 16,01% dari total jumlah proyek, sementara proyek BUMN sebesar 52,83% dan proyek swasta sebesar 31,16%.
Demi menggenjot kinerja akhir tahun, perseroan berupaya menjaga arus kas dan profitabilitas. Dalam menjaga arus kas, PTPP fokus pada percepatan pencairan piutang usaha untuk memastikan cash flow operasi tetap positif. Sementara itu, profitabilitas dijaga dengan penerapan prinsip lean construction pada setiap proyek, yakni meningkatkan efisiensi dan meminimalisir pemborosan sepanjang proses pembangunan.
Tak hanya itu, perseroan turut menempuh strategi percepatan eksekusi proyek berjalan agar pendapatan dapat segera terealisasi.
Selanjutnya: Band Driven By Animals Rilis Lagu Bertema Realita Gelap di Sekitar Masyarakat
Menarik Dibaca: Band Driven By Animals Rilis Lagu Bertema Realita Gelap di Sekitar Masyarakat
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News