kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45927,64   6,18   0.67%
  • EMAS1.325.000 -1,34%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Pupuk Indonesia Harap HGBT Bisa Dilanjutkan, Ini Alasannya


Senin, 04 Maret 2024 / 07:00 WIB
Pupuk Indonesia Harap HGBT Bisa Dilanjutkan, Ini Alasannya
ILUSTRASI. Area pabrik PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) di Kota Bontang, Kalimantan Timur (27/7). Menempati lahan seluas 624 hektar, PKT?sebagai produsen pupuk urea terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara, PKT memiliki kapasitas produksi dalam skala besar yang ditopang oleh pabrik-pabrik yang handal dan efisien. Hingga kini, PKT memiliki 13 pabrik: 5 pabrik Amoniak, 5 pabrik Urea, 1 pabrik NPK Fused Granulation, 1 pabrik NPK Blending, dan pabrik 1 boiler batu bara, serta unit pergudangan dengan total kapasitas produksi pupuk urea sebesar 3,43 juta ton/tahun, Amoniak sebesar 2,74 juta ton/tahun, dan NPK sebesar 300 ribu ton/tahun. KONTAN/Muradi.2022/07/27


Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - BONTANG. PT Pupuk Indonesia (Persero) alias PIHC berharap kebijakan pemerintah terhadap Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) yang tampaknya akan berakhir di tahun 2024, terus dilanjutkan.

“Kami sangat terbantu, sangat-sangat terbantu. karena kalau buat Pupuk Indonesia kan sebagian besar produksi kita memang untuk subsidi. Jadi dengan HGBT itu, produk kita menjadi lebih kompetitif, kalau produk lebih kompetitif, tagihan subsidi ke pemerintah juga tidak berlebihan,” ungkap Direktur Utama Pupuk Indonesia (Persero), Rahmad Pribadi saat ditemui Kontan.co.id di acara peresmian Pabrik PT KAN yang dilaksanakan di Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) pada Kamis (29/02).

Baca Juga: Dukung Proyek IKN, Asaki Minta Kebijakan HGBT Dilanjutkan

Rahmad menyadari bahwa HGBT akan berakhir tahun 2024, namun jika ini terjadi dia memprediksi ini akan berpengaruh pada subsidi ke pemerintah dari Pupuk Indonesia yang semakin tinggi.

“Ya kita berharap HGBT ini dilanjutkan ke tahun-tahun berikutnya. Karena kalau harga gasnya mahal nanti tagihan subsidinya ikut mahal. Makanya semoga kebijakan HGBT ini dilanjutkan,” tambahnya.

Memang jika merujuk pada ketentuan yang ada dalam Kepmen ESDM No 134 Tahun 2021, kebijakan HGBT untuk industri akan berakhir pada 2024 ini. Dan saat ini, pemerintah tengah melakukan evaluasi terkait kelanjutan kebijakan ini. 

Baca Juga: Berakhir Tahun Ini, Kebijakan Harga Gas Industri Masih Dievaluasi

Berdasarkan catatan Kontan, di akhir Februari tahun ini, Koordinator Penyiapan Program Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Rizal Fajar Muttaqein telah mengungkapkan, pihaknya menanti evaluasi dari Kementerian Perindustrian terkait implementasi Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) US$ 6 per MMBTU untuk 7 sektor industri penerima manfaat.

“Artinya nanti ketika ada kinerja dari masing-masing pengguna HGBT yang tidak sesuai dengan yang dikomitmenkan di awal terkait multiplier effect yang diharapkan diberikan kepada pengguna HGBT tersebut, tentunya ada evaluasi dari teman-teman Kemenperin untuk bisa melanjutkan atau mengurangi pasokan atau menghentikan kebijakan HGBT,“ kata Rizal dalam Diskusi Virtual, Rabu (28/2).

Rizal melanjutkan, Kementerian ESDM pun saat ini telah menerima surat permintaan perpanjangan kebijakan HGBT dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Meski demikian, proses evaluasi kini masih berlangsung.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Trik & Tips yang Aman Menggunakan Pihak Ketiga (Agency, Debt Collector & Advokat) dalam Penagihan Kredit / Piutang Macet Managing Customer Expectations and Dealing with Complaints

[X]
×