Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Yudho Winarto
Impor Jadi Opsi, Tapi Tidak Mudah
Untuk menutup kekurangan pasokan, impor menjadi opsi yang hampir tak terhindarkan. Tahun lalu, impor bijih nikel tercatat sekitar 15 juta ton dan berpotensi meningkat tahun ini.
“Nah, di mana kita nutupnya? Pasti dari impor. Tahun lalu 15 juta ton, mungkin tahun ini bisa lebih. Tapi tetap masih ada gap,” ujar Arif.
Sejumlah negara yang menjadi kandidat sumber impor antara lain Filipina, Kaledonia Baru, dan Papua Nugini.
Baca Juga: Kapal Tanker Terancam, Asuransi War Risk Ditarik Imbas Konflik Timur Tengah
Namun, peluang dari Filipina pun terbatas. Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Meidy Katrin, mengungkapkan produksi Filipina tahun ini diperkirakan hanya 50 juta ton.
Dari jumlah tersebut, sekitar 28–30 juta ton sudah terikat kontrak jangka panjang dengan China.
“Total maksimal 50 juta ton. Mereka sudah punya kontrak dengan China sekitar 28–30 juta ton yang tidak bisa diganggu gugat,” kata Meidy dalam forum yang sama.
Artinya, potensi pasokan ke Indonesia hanya sekitar 22–23 juta ton.
Sementara itu, produksi Papua Nugini dan Kaledonia Baru dinilai tidak sebesar Filipina, di tengah kebutuhan domestik masing-masing negara yang juga meningkat.
“Secara jarak mungkin Papua Nugini dan New Caledonia paling masuk akal. Tapi mereka juga harus mendukung industri dalam negeri. Apalagi kalau harga nikel tembus US$ 20.000 per ton, utilisasi pabrik di sana pasti meningkat,” jelas Arif.
Baca Juga: Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Berpotensi Naik dan Beban Subsidi Membengkak
RKAB 2026 Lebih Rendah dari Tahun Lalu
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno sebelumnya menyampaikan bahwa RKAB nikel 2026 ditetapkan pada kisaran 260–270 juta ton.
“Nikel sudah kita umumkan hari ini, target produksinya 260–270 juta ton,” ujarnya di Gedung Ditjen Minerba, Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan RKAB 2025 yang mencapai 379 juta ton.
Dengan pemangkasan tersebut, industri smelter menghadapi tantangan serius menjaga kesinambungan pasokan bahan baku.
Jika tidak diantisipasi, potensi kekurangan hingga 100 juta ton bisa menghambat operasional smelter dan mengganggu agenda hilirisasi nikel nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













