kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45886,18   -14,64   -1.62%
  • EMAS1.338.000 0,38%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Sektor Teknologi, Media dan Telekomunikasi Paling Banyak Terkena Ancaman Siber


Rabu, 15 Mei 2024 / 21:21 WIB
Sektor Teknologi, Media dan Telekomunikasi Paling Banyak Terkena Ancaman Siber
ILUSTRASI. Adithya Nugraputra, Head of Consulting, Ensign InfoSecurity Indonesia memparkan soal ancaman siber terbesar di 2023


Reporter: Francisca Bertha Vistika | Editor: Francisca bertha

KONTAN.CO.ID - Teknologi, Media dan Telekomunikasi atau TMT menjadi sasaran serangan siber terbanyak di 2023. Ensign InfoSecurity (“Ensign”), penyedia solusi keamanan siber menyampaikan soal Laporan Lanskap Ancaman Siber yang membahas soal serangan siber di 2023. 

Dibanding tahun 2022, Ensign mengamati adanya pergeseran di antara tiga industri yang paling banyak dijadikan sasaran, dengan tambahan sektor TMT yang muncul sebagai target baru. TMT menjadi sasaran. 

Sebagai informasi, di 2022 serangan siber paling besar pada sektor publik. Kemudian disusul dengan jasa keuangan. Tahun 2023, TMT justru berada di peringkat awal dan jasa keuangan di peringkat kedua. 

Baca Juga: Blockchain dan Kripto Jadi Fondasi Baru Era Digital di Tengah Ketidakpastian Global

Alasan dari serang ini diantaranya  perusahaan TMT terintegrasi dengan aktivitas bisnis digital yang terkait dengan akses dan keterhubungan dengan pengelolaan data sensitif. Disamping itu, perusahaan rintisan (startup) berbasis teknologi menjadi penggerak aktivitas IPO dan ekonomi. Hal lainnya juga diakrenakan, investasi teknologi membanjiri Indonesia, serta menjadi daya tarik pelaku ancaman yang bermaksud mencari kegiatan yang akan menguntungkan mereka secara finansial, mendorong mereka melakukan pencurian data dan spionase.

Tujuan utama yakni sekitar 42%  dari semua serangan siber masuk dalam pengamatan di Indonesia. Di mana para penyerang berusaha untuk memeras uang dari korban organisasi setelah serangan.

Hal ini mencerminkan semakin tingginya ancaman ransomware secara global bagi sektor korporat. Adaupun bentuk penyerangannya lewat  “pemerasan ganda” atau pemerasan berlapis sebagai taktik baru. Selain itu Ensign menyampaikan bahwa  penjualan kredensial dan akses awal curian serta penjualan data yang dicuri (8%) di pasar web gelap menjadi salah satu tujuan dari perentasan ini.

Baca Juga: Agate Meraih Sertifikasi ISO/IEC 27001: 2022 Bekal Komitmen Ekspansi Global

Kabar baiknya, Ensign telah mengamati adanya peningkatan kesadaran akan potensi ancaman siber di enam kawasan Asia Pasifik pada tahun 2023. Rata-rata “dwell time”, yang mengukur berapa lama penyerang berada di dalam jaringan korban mereka sebelum ditemukan, menurun tajam di seluruh industri (waktu tunggu maksimum turun dari 1095 hari menjadi 49 hari), menunjukkan bahwa para target yang disasar menjadi lebih baik dalam pendeteksian, bahkan untuk kasus penyerang siber yang tersembunyi.

Ensign justru mengamati perkembangan yang mengkhawatirkan di mana kelompok-kelompok hacktivist meningkatkan kemampuan mereka melalui pengembangan alat eksploitasi dan juga beralih ke operasi Ransomware, yang diyakini lebih ditujukan untuk mendapatkan uang yang kemudian digunakan untuk memperluas operasi mereka untuk melanggengkan tujuan kolektif.

Ensign juga mengamati bagaimana serangan rantai pasokan baru-baru ini, terutama pada infrastruktur digital seperti perangkat jaringan semakin merajalela; serta ancaman dan risiko yang ditimbulkan oleh Kecerdasan Buatan di domain siber dan informasi. 

Baca Juga: Pemberdayaan Konsumen Keuangan Digital

Adithya Nugraputra, Head of Consulting, Ensign InfoSecurity Indonesia mengatakan bahwa di tengah ekonomi digital yang sedang berkembang, para pelaku ancaman mengeksploitasi keterhubungan infrastruktur digital, yang mengakibatkan peningkatan serangan siber di berbagai sektor di Indonesia,Pihaknya berharap Laporan Lanskap Ancaman Siber dari Ensign InfoSecurity dapat membantu organisasi untuk memahami ancaman dan mempelajari bagaimana pelaku serangan berpikir dan beroperasi.

"Berbekal pengetahuan ini dan dengan menerapkan tindakan defensif yang kami rekomendasikan, mereka dapat melindungi jaringan dan sistem bisnis mereka dengan lebih baik dari penjahat siber," ungkap Adithya dalam pemaparan Laporan Lanskap Ancaman Siber yang dihadiri KONTAN pada Rabu (15/5).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×