kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.665.000   13.000   0,49%
  • USD/IDR 16.882   -7,00   -0,04%
  • IDX 9.033   84,28   0,94%
  • KOMPAS100 1.248   7,65   0,62%
  • LQ45 882   3,22   0,37%
  • ISSI 330   3,28   1,00%
  • IDX30 449   0,01   0,00%
  • IDXHIDIV20 529   -1,74   -0,33%
  • IDX80 139   0,91   0,66%
  • IDXV30 147   0,11   0,08%
  • IDXQ30 144   0,01   0,00%

Selain batik, desainer lirik kain tenun Makassar


Jumat, 24 Februari 2012 / 16:33 WIB
Selain batik, desainer lirik kain tenun Makassar
ILUSTRASI. Suasana pertokoan di Plaza Indonesia


Reporter: Ayu Utami Larasati | Editor: Asnil Amri

JAKARTA. Selain memakai produk batik, Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) berniat mengembangkan tren fesyen baru dengan memakai kain tradisional asli dari Indonesia.

Kali ini, APPMI berniat untuk mengembangkan produk fesyen berbahan kain Makasar Silk alias sutra dari Makassar. Rencana itu disampaikan oleh Poppy Dharsono, salah satu pendiri APPMI kepada KONTAN, Jumat (24/2)

“Jika Thailand punya Thai Silk (sutra Thailand), maka kami punya Makassar Silk (kain sutra tenun dari Makassar),” ungkap Poppy. Ia menambahkan, saat ini pengembangan desain fesyen berbahan Makassar Silk itu, tergantung dari dukungan pemerintah, terutama dalam hal promosi.

Poppy meyakini, pasar produk fesyen di dalam negeri mampu berkembang pesat, bahkan pasarnya bisa bersaing dengan negara lain seperti Malaysia, Singapura maupun Hongkong. “Kami akan fokus pasar dalam negeri, karena potensi pasarnya naik,” terang Poppy.

Ia menambahkan, keahlian merancang busana oleh desainer Indonesia sekarang tak lagi di pandang sebelah mata. Apalagi, sekarang desainer di Indonesia mahir menggali karya kreatif dan inspiratif dari bahan dasar produk fesyen asli tradisional.

Sebelumnya, MS Hidayat, Menteri Perindustrian mengungkapkan, Industri fesyen saat menyumbang 5,9% pembentukan produk domestik bruto (PDB) atau sekitar Rp 71,9 triliun. Industri fesyen ini mampu meraup tenaga kerja hingga 4 juta orang, dan menyumbang devisa Rp 50,3 triliun dengan pertumbuhan 9% sampai 11%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×