Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengungkap perkembangan rencana peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek LNG Abadi di Blok Masela yang dikelola Inpex Corporation. Saat ini, proses tersebut masih menunggu penyelesaian kompensasi tanam tumbuh kepada masyarakat.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan, pihaknya bersama Inpex tengah membahas proses kompensasi atas tanaman atau hasil budidaya yang terdampak kegiatan proyek.
Sebagai informasi, kompensasi tanam tumbuh merupakan imbalan yang diberikan oleh kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) atau negara kepada pemilik lahan atau penggarap atas kerusakan atau penggunaan tanaman, pepohonan, maupun hasil pertanian yang berada di atas lahan terdampak aktivitas eksplorasi maupun eksploitasi migas.
Menurut Djoko, SKK Migas sedang membentuk tim terpadu untuk menghitung besaran kompensasi tersebut. Tim inilah yang nantinya akan menentukan nilai kompensasi yang layak sebelum pembayaran dilakukan kepada masyarakat.
Baca Juga: Kementerian ESDM: Stok BBM Aman Jelang Lebaran, Masyarakat Diminta Tak Panic Buying
“Sedang proses penentuan tim terpadu. mereka yang akan mengitung yang ps ganti rugi, bukan ganti rugi tapi kompensasi. dari situ berapa baru kita putuskan, baru kita bayar sebelum groundbreaking,” ujar Djoko di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (6/3/2026).
Djoko menambahkan, peletakan batu pertama proyek LNG Abadi akan dilakukan setelah seluruh proses kompensasi kepada masyarakat rampung. Meski demikian, ia memastikan groundbreaking proyek tersebut tetap ditargetkan berlangsung pada akhir Maret 2026.
Proyek Abadi Masela diperkirakan memiliki kapasitas produksi sekitar 9,5 juta ton LNG per tahun. Volume tersebut setara dengan lebih dari 10% kebutuhan impor LNG Jepang dalam setahun.
Selain LNG, proyek ini juga dirancang menghasilkan gas pipa sebesar 150 juta standar kaki kubik per hari (MMscfd) serta kondensat sekitar 35.000 barel per hari.
Inpex mengelola Blok Masela melalui anak usahanya, Inpex Masela Ltd., dengan hak partisipasi 65%. Sementara itu, mitra proyek lainnya adalah PT Pertamina Hulu Energi Masela dengan porsi 20% dan Petronas Masela Sdn. Bhd. sebesar 15%.
Perusahaan asal Jepang tersebut juga telah memulai tahap desain rekayasa teknis atau front-end engineering design (FEED) secara menyeluruh sejak September 2025.
Namun demikian, Inpex mengakui kenaikan biaya konstruksi menjadi tantangan dalam pengembangan proyek tersebut. Untuk menjaga kelayakan proyek, perusahaan membidik tingkat pengembalian internal (internal rate of return/IRR) sekitar 15%.
Jika target tersebut sulit tercapai, Inpex membuka peluang untuk bernegosiasi dengan pemerintah Indonesia guna memperoleh tambahan insentif, termasuk dukungan fiskal.
Selain untuk pasar ekspor, sebagian produksi LNG dari proyek Abadi juga direncanakan diserap oleh badan usaha milik negara (BUMN), yakni PT PLN (Persero), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) untuk LNG, serta PT Pupuk Indonesia (Persero) untuk pasokan gas bumi.
Baca Juga: TikTok dan Tokopedia Bersinergi Perkuat UMKM & Kreator Selama Ramadan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













