Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA Indonesia menjadi salah satu negara yang terkena tarif impor (resiprokal) Amerika Serikat (AS) baru, sebesar 32% berlaku mulai 9 April 2025.
Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI) menyatakan pihaknya turun prihatin dan turut memberikan catatan ini kepada Pemerintah.
"Hubungan perdagangan ini mendukung pertumbuhan ekonomi kedua negara. Oleh karena itu, menjaga stabilitas dan kelancaran hubungan perdagangan antara Indonesia dan Amerika adalah hal yang sangat penting bagi kedua negara," ujar Ketua Umum GAPMMI, Adhi Lukman, melalui siaran pers, Sabtu (5/4).
Baca Juga: Perang Dagang AS-China Ancam Stabilitas Ekonomi Global, Ini Peringatan The Fed
GAPMMI mengidentifikasi beberapa dampak utama dari tarif ini.
Pertama, akan terjadi kenaikan biaya produksi. Tarif impor akan meningkatkan biaya produksi industri nasional yang menggunakan bahan baku dari Amerika. Jika ini terjadi, tentu harga jual produk Indonesia mengalami kenaikan. Dan hal ini bisa mengurangi daya saing produk Indonesia di pasar internasional.
Kedua, tarif yang tinggi dapat menyebabkan penurunan volume ekspor produk makanan dan minuman Indonesia ke Amerika serta negara tujuan ekspor lainnya, yang berdampak negatif pada kinerja dan pertumbuhan industri nasional.
Ketiga, penurunan ekspor tentunya dapat mengancam lapangan kerja di sektor makanan dan minuman di Indonesia, di saat situasi ekonomi yang sedang lesu.
Lebih lanjut, GAPMMI mendesak pemerintah untuk mengambil segera langkah-langkah strategis berikut:
1. Melakukan negosiasi diplomatik untuk mencari solusi dan mengurangi dampak negatif tarif resiprokal.
2. Menganalisa dampak penerapan tarif secara menyeluruh dan memberikan dukungan kebijakan kepada industri makanan dan minuman untuk mengatasi kenaikan biaya produksi dan menjaga daya saing.
3. Menciptakan stabilitas perekonomian sosial dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
4. Mendorong hilirisasi industri sektor agrobisnis dan substitusi impor bahan baku dengan bahan baku nasional pada jenis komoditas yang dimungkinkan.
Baca Juga: Industri Padat Karya Paling Terpukul Kebijakan Tarif Trump, Ini Alasannya
5. Mempertahankan kebijakan TKDN sebagai respon kenaikan BMI Amerika. Kebijakan ini telah terbukti meningkatkan permintaan produk manufaktur dalam negeri terutama dari belanja pemerintah.
Kebijakan ini juga memberi jaminan kepastian investasi dan dapat menarik investasi baru ke Indonesia. Banyak tenaga kerja Indonesia bekerja pada industri yang produknya dibeli setiap tahun oleh pemerintah karena kebijakan ini.
Pelonggaran kebijakan ini akan berakibat hilangnya lapangan kerja dan berkurangnya jaminan investasi di Indonesia.
6. Mendorong diversifikasi pasar ekspor untuk mengurangi ketergantungan pada pasar Amerika Serikat.
Selanjutnya: Donald Trump Dikecam Usai Unggah Video Serangan Udara terhadap Houthi di Yaman
Menarik Dibaca: Infinix Note 40 HP Keren dengan Spesifikasi Mantap, Cuma 2 Jutaan!
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News