Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Spatial Infra ConEx 2026 resmi diluncurkan dalam sebuah pertemuan di Semarang sebagai awal rangkaian menuju The International Conference on Spatial Planning and Infrastructure for Sustainable Development 2026.
Konferensi internasional ini akan membahas isu-isu strategis terkait tata ruang dan pembangunan infrastruktur berkelanjutan.
Baca Juga: Ada Gangguan A320, InJourney Airports Siap Perpanjang Jam Operasi
Dalam kuliah umum di Universitas Diponegoro (Undip), Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menekankan pentingnya penguatan koordinasi dalam kebijakan penataan ruang nasional.
Ia mengatakan bahwa berbagai tantangan seperti perubahan iklim, pertumbuhan wilayah yang pesat, dan meningkatnya kebutuhan infrastruktur menuntut kebijakan yang lebih terarah, berbasis data, dan kolaboratif.
AHY menjelaskan bahwa pembangunan infrastruktur perlu berlandaskan tiga prinsip utama: ketangguhan (resilience), kesejahteraan (prosperity), dan keberlanjutan (sustainability).
Ketiga prinsip tersebut dinilai penting untuk memperkuat ketahanan wilayah, terutama karena Indonesia berada di kawasan rawan bencana dan menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin nyata.
“Infrastruktur yang adaptif dan aman disebut sebagai kebutuhan mendesak untuk melindungi masyarakat dan menjamin keberlanjutan pembangunan,” ujarnya melalui keterangannya beberapa waktu lalu.
Baca Juga: Indonesia AirAsia Pastikan Armada A320 Aman dari Kewajiban Rollback Software Airbus
Menutup acara, AHY mengundang seluruh pemangku kepentingan menghadiri Spatial Infra ConEx 2026 yang akan digelar di Jakarta pada 12–13 Mei 2026.
Forum ini akan diikuti oleh pemerintah, Perkumpulan Pelaku Kebijakan dan Manajemen Tata Ruang Indonesia (ISPASI), On Us Asia, akademisi, industri, serta organisasi masyarakat.
Konferensi diharapkan menghasilkan ide dan solusi konkret bagi pengembangan tata ruang dan infrastruktur nasional.
Dalam kesempatan itu, ISPASI juga diperkenalkan sebagai wadah kolaborasi para profesional, akademisi, dan pembuat kebijakan di bidang tata ruang.
Ketua ISPASI, Prasetyoadi, menjelaskan bahwa lembaga tersebut dibentuk untuk menyediakan analisis, kajian strategis, dan ruang pertukaran pengetahuan guna mendukung penyusunan kebijakan tata ruang yang lebih baik.
ISPASI diharapkan menjadi forum dialog yang inklusif dan terintegrasi bagi isu-isu pembangunan wilayah.
Baca Juga: Gerak Cepat, PGN Kirim Bantuan Logistik Tahap Pertama Korban Bencana Sumatra
Sebagai platform kolaborasi lintas sektor, Spatial Infra ConEx menegaskan tiga fokus utama:
- Penyusunan kajian dan analisis berbasis riset sebagai dasar rekomendasi kebijakan tata ruang.
- Memperkuat kolaborasi antara pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat.
- Membangun kemitraan jangka panjang untuk keberlanjutan program dan pengembangan riset.
Dengan tiga fokus tersebut, Spatial Infra ConEx diharapkan menjadi penghubung penting dalam peningkatan kualitas penataan ruang di Indonesia secara berkelanjutan.
Peluncuran ini sekaligus menandai komitmen Indonesia dalam mendorong tata ruang yang lebih akurat, inklusif, dan berorientasi masa depan.
Selanjutnya: Strategi Energi Bersih: Gas Tangkulo Topang Kebutuhan PLN EPI
Menarik Dibaca: Resep Donat Mochi Super Chewy dan Lumer yang Anti Gagal
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













