Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Yudho Winarto
Rupiah dan Biaya Logistik Tekan Harga
Selain persoalan pasokan, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) turut meningkatkan biaya impor sapi.
Asnawi mengatakan, pelaku usaha sebelumnya menggunakan asumsi kurs sekitar Rp 16.500 per dolar AS dalam perhitungan impor. Sementara itu, nilai tukar saat ini telah mendekati Rp 18.000 per dolar AS.
"Perubahan nilai tukar berdampak terhadap biaya impor. Bagi pengusaha impor, perhitungan yang digunakan sekitar Rp 16.500 per dolar, sementara kondisi sekarang mendekati Rp 18.000. Ada selisih sekitar Rp 1.500 per dolar AS," kata Asnawi.
Baca Juga: Tak Sekadar Ekstraksi, Inilah Babak Baru Peta Jalan Industri Pertambangan Indonesia
Kenaikan biaya juga datang dari sektor logistik. Harga minyak yang meningkat akibat konflik geopolitik global turut berdampak terhadap biaya pengangkutan sapi dari Australia menuju Indonesia.
Kenaikan biaya tidak hanya terjadi pada angkutan laut, tetapi juga transportasi dari peternakan menuju pelabuhan di negara asal.
"Sehingga angkutan distribusi pelabuhan kapal itu termasuk truk angkutan dari peternakan ke pelabuhan itu mengalami kenaikan," jelasnya.
Kombinasi keterbatasan pasokan, ketergantungan impor, pelemahan rupiah, serta kenaikan biaya logistik membuat ruang penurunan harga daging sapi menjadi semakin terbatas.
Intervensi Pemerintah Dinilai Terbatas
Di tengah kenaikan harga, pemerintah melalui Bapanas tengah menyiapkan intervensi untuk menjaga harga daging sapi di pasar.
Asnawi mengatakan, asosiasi pedagang pasar juga telah dilibatkan dalam pembahasan rencana intervensi tersebut. Namun, pelaksanaannya masih dalam tahap pembahasan.
Baca Juga: Prodia Diagnostic Line (PRDL) Siapkan 17 Produk Baru dan Perluas Pasar
Menurut dia, efektivitas intervensi pada 2026 juga berbeda dibandingkan kebijakan yang dilakukan pemerintah pada 2021.
Pada 2021, intervensi dilakukan melalui komoditas sapi atau kerbau hidup. Dengan demikian, seluruh bagian dari satu ekor ternak memiliki nilai ekonomi sehingga ruang intervensi untuk menekan harga lebih besar.
Sementara pada 2026, intervensi lebih banyak dilakukan melalui daging beku industri.
Asnawi menilai intervensi melalui daging beku memiliki daya tekan yang lebih terbatas karena produk yang masuk ke pasar hanya berupa bagian daging tertentu, bukan satu ekor ternak secara utuh.
Selain itu, daging beku tetap memiliki sejumlah komponen biaya, mulai dari harga bahan baku, pengolahan, distribusi, hingga penyusutan berat.
"Karena itu, diproyeksikan, setelah intervensi penurunan harga daging sapi di pasaran kemungkinan tak begitu dalam, hanya bisa ke kisaran level HAP di Rp 140.000/kg," tandasnya.
Sebelumnya, Bapanas menyatakan tengah memperkuat koordinasi dengan BUMN Pangan dan asosiasi pedagang untuk menjaga pasokan dan stabilitas harga daging sapi.
Baca Juga: Harga Avtur Pertamina Turun Agustus 2026, Cek Rinciannya di Sejumlah Bandara
Melalui kolaborasi dengan JAPPDI dan Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI), intervensi pasar rencananya disalurkan langsung kepada pedagang di pasar rakyat.
"Kita melakukan koordinasi upaya ini dengan BUMN Pangan agar harga daging sapi masuk di dalam HAP. Kita juga minta BUMN Pangan untuk berkolaborasi dengan asosiasi pedagang," kata Direktur Perumusan Standar Keamanan dan Mutu Pangan Bapanas Yusra Egayanti dalam keterangannya, Selasa (25/8/2026).
Dengan kondisi pasokan domestik yang terbatas dan ketergantungan impor yang masih tinggi, stabilisasi harga daging sapi ke depan akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah menjaga pasokan, memperkuat produksi dalam negeri, serta mengendalikan dampak nilai tukar dan biaya logistik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














