kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.709   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.518   -3,63   -0,06%
  • KOMPAS100 848   -0,96   -0,11%
  • LQ45 642   0,75   0,12%
  • ISSI 229   -1,10   -0,48%
  • IDX30 359   0,71   0,20%
  • IDXHIDIV20 438   1,12   0,26%
  • IDX80 97   -0,06   -0,06%
  • IDXV30 122   -0,08   -0,06%
  • IDXQ30 114   0,40   0,35%

Stok Sapi Feedlot Cuma Cukup hingga November, Harga Daging Berpotensi Terus Naik


Minggu, 30 Agustus 2026 / 18:33 WIB
Stok Sapi Feedlot Cuma Cukup hingga November, Harga Daging Berpotensi Terus Naik
ILUSTRASI. Pedagang daging sapi segar menata dagangannya di pasar tradisional Senen (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketersediaan sapi siap potong di kandang penggemukan (feedlot) semakin terbatas.

Kondisi tersebut berpotensi menjaga harga daging sapi tetap tinggi hingga beberapa bulan ke depan, terutama di tengah produksi dalam negeri yang belum mampu memenuhi kebutuhan nasional.

Ketua Umum Jaringan Pemotong dan Pedagang Daging Indonesia (JAPPDI) Asnawi mengatakan, stok sapi di feedlot saat ini diperkirakan hanya mampu memenuhi kebutuhan pasar hingga sekitar November 2026.

Baca Juga: Permenaker Alih Daya Terbit, SP JICT Dorong Pelindo Evaluasi Tenaga Kerja

Menurut dia, terbatasnya pasokan sapi siap potong menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga daging sapi di tingkat konsumen.

" Saat ini sudah banyak importir sapi yang angkat bendera putih," kata Asnawi kepada Kontan.co.id, Minggu (30/8/2026).

Tekanan pasokan tersebut tercermin dari harga daging sapi yang telah berada di atas harga acuan pemerintah.

Berdasarkan Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas) per 23 Agustus 2026, rata-rata harga daging sapi di tingkat konsumen mencapai Rp 144.682 per kilogram (kg), lebih tinggi dibandingkan Harga Acuan Pembelian (HAP) sebesar Rp 140.000 per kg.

Asnawi menjelaskan, keterbatasan pasokan sapi juga berkaitan dengan rendahnya konversi bobot ternak menjadi daging. Dari bobot hidup sapi, persentase karkas setelah penyembelihan hanya sekitar 48,2%.

Artinya, tidak seluruh bobot hidup sapi dapat menjadi daging yang siap dikonsumsi. Kondisi ini membuat kebutuhan sapi hidup menjadi jauh lebih besar untuk memenuhi kebutuhan konsumsi daging nasional.

Baca Juga: Selamat Sempurna (SMSM) Optimistis Kinerja Semester II-2026 Tetap Positif

Ketergantungan Impor Masih Tinggi

Asnawi memperkirakan kebutuhan daging sapi nasional mencapai sekitar 756.000 ton per tahun.

Perhitungan tersebut mengacu pada jumlah penduduk sekitar 280 juta jiwa dengan konsumsi daging sekitar 2,7 kg per kapita per tahun.

Dengan asumsi rata-rata bobot sapi siap potong sekitar 175 kg per ekor, kebutuhan sapi siap potong mencapai sekitar 4,3 juta ekor per tahun.

Menurut Asnawi, kapasitas produksi dalam negeri belum cukup untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Bahkan, dia menilai porsi produksi domestik yang mampu memenuhi kebutuhan nasional perlu dikaji kembali.

Baca Juga: Triputra Agro Persada Perkuat Antisipasi Karhutla di Tengah Ancaman El Nino 2026

"Pemerintah menyampaikan produksi dalam negeri mampu memenuhi sekitar 60% kebutuhan, tetapi menurut kondisi objektif di lapangan, angkanya perlu dikaji ulang. Kemampuan pasokan dalam negeri diperkirakan hanya sekitar 40%, sedangkan 60% sisanya harus dipenuhi melalui impor," lanjut Asnawi.

Ketergantungan terhadap impor membuat harga daging sapi domestik sensitif terhadap perubahan kondisi pasar global.

Persaingan mendapatkan sapi dari negara pemasok seperti Australia juga semakin ketat karena negara lain kini menghadapi persoalan pasokan serupa.

"Saat ini kompetitor dari berbagai negara juga membutuhkan pasokan sapi dari Australia," imbuhnya.

Rupiah dan Biaya Logistik Tekan Harga

Selain persoalan pasokan, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) turut meningkatkan biaya impor sapi.

Asnawi mengatakan, pelaku usaha sebelumnya menggunakan asumsi kurs sekitar Rp 16.500 per dolar AS dalam perhitungan impor. Sementara itu, nilai tukar saat ini telah mendekati Rp 18.000 per dolar AS.

"Perubahan nilai tukar berdampak terhadap biaya impor. Bagi pengusaha impor, perhitungan yang digunakan sekitar Rp 16.500 per dolar, sementara kondisi sekarang mendekati Rp 18.000. Ada selisih sekitar Rp 1.500 per dolar AS," kata Asnawi.

Baca Juga: Tak Sekadar Ekstraksi, Inilah Babak Baru Peta Jalan Industri Pertambangan Indonesia

Kenaikan biaya juga datang dari sektor logistik. Harga minyak yang meningkat akibat konflik geopolitik global turut berdampak terhadap biaya pengangkutan sapi dari Australia menuju Indonesia.

Kenaikan biaya tidak hanya terjadi pada angkutan laut, tetapi juga transportasi dari peternakan menuju pelabuhan di negara asal.

"Sehingga angkutan distribusi pelabuhan kapal itu termasuk truk angkutan dari peternakan ke pelabuhan itu mengalami kenaikan," jelasnya.

Kombinasi keterbatasan pasokan, ketergantungan impor, pelemahan rupiah, serta kenaikan biaya logistik membuat ruang penurunan harga daging sapi menjadi semakin terbatas.

Intervensi Pemerintah Dinilai Terbatas

Di tengah kenaikan harga, pemerintah melalui Bapanas tengah menyiapkan intervensi untuk menjaga harga daging sapi di pasar.

Asnawi mengatakan, asosiasi pedagang pasar juga telah dilibatkan dalam pembahasan rencana intervensi tersebut. Namun, pelaksanaannya masih dalam tahap pembahasan.

Baca Juga: Prodia Diagnostic Line (PRDL) Siapkan 17 Produk Baru dan Perluas Pasar

Menurut dia, efektivitas intervensi pada 2026 juga berbeda dibandingkan kebijakan yang dilakukan pemerintah pada 2021.

Pada 2021, intervensi dilakukan melalui komoditas sapi atau kerbau hidup. Dengan demikian, seluruh bagian dari satu ekor ternak memiliki nilai ekonomi sehingga ruang intervensi untuk menekan harga lebih besar.

Sementara pada 2026, intervensi lebih banyak dilakukan melalui daging beku industri.

Asnawi menilai intervensi melalui daging beku memiliki daya tekan yang lebih terbatas karena produk yang masuk ke pasar hanya berupa bagian daging tertentu, bukan satu ekor ternak secara utuh.

Selain itu, daging beku tetap memiliki sejumlah komponen biaya, mulai dari harga bahan baku, pengolahan, distribusi, hingga penyusutan berat.

"Karena itu, diproyeksikan, setelah intervensi penurunan harga daging sapi di pasaran kemungkinan tak begitu dalam, hanya bisa ke kisaran level HAP di Rp 140.000/kg," tandasnya.

Sebelumnya, Bapanas menyatakan tengah memperkuat koordinasi dengan BUMN Pangan dan asosiasi pedagang untuk menjaga pasokan dan stabilitas harga daging sapi.

Baca Juga: Harga Avtur Pertamina Turun Agustus 2026, Cek Rinciannya di Sejumlah Bandara

Melalui kolaborasi dengan JAPPDI dan Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI), intervensi pasar rencananya disalurkan langsung kepada pedagang di pasar rakyat.

"Kita melakukan koordinasi upaya ini dengan BUMN Pangan agar harga daging sapi masuk di dalam HAP. Kita juga minta BUMN Pangan untuk berkolaborasi dengan asosiasi pedagang," kata Direktur Perumusan Standar Keamanan dan Mutu Pangan Bapanas Yusra Egayanti dalam keterangannya, Selasa (25/8/2026).

Dengan kondisi pasokan domestik yang terbatas dan ketergantungan impor yang masih tinggi, stabilisasi harga daging sapi ke depan akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah menjaga pasokan, memperkuat produksi dalam negeri, serta mengendalikan dampak nilai tukar dan biaya logistik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×