kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.120.000   -48.000   -1,52%
  • USD/IDR 16.805   19,00   0,11%
  • IDX 8.330   97,40   1,18%
  • KOMPAS100 1.165   25,83   2,27%
  • LQ45 834   20,52   2,52%
  • ISSI 298   2,18   0,74%
  • IDX30 430   8,24   1,96%
  • IDXHIDIV20 510   9,16   1,83%
  • IDX80 129   2,93   2,32%
  • IDXV30 139   2,61   1,92%
  • IDXQ30 139   3,06   2,26%

Tangkap Peluang dari Terapi Sel Punca Untuk Tangani Penyakit Kronis


Jumat, 30 Januari 2026 / 18:49 WIB
Tangkap Peluang dari Terapi Sel Punca Untuk Tangani Penyakit Kronis
ILUSTRASI. penyakit sel sabit (dok./Kontan)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perkembangan ilmu kedokteran mendorong lahirnya berbagai pendekatan terapi baru, salah satunya terapi sel punca (stem cell) yang kini semakin banyak dimanfaatkan dalam penanganan penyakit kronis hingga penyakit yang mengancam jiwa. 

Sejumlah riset menunjukkan terapi ini berpotensi menjadi solusi jangka panjang, khususnya untuk kelainan darah bawaan dan kanker darah, yang selama ini membutuhkan perawatan berkelanjutan.

Secara prinsip, sel punca merupakan sel induk yang memiliki kemampuan memperbanyak diri dan berdiferensiasi menjadi berbagai jenis sel baru yang sehat untuk menggantikan sel yang rusak. 

Baca Juga: Insentif Otomotif 2026 Masih Abu-abu, Gaikindo Pilih Bekerja Secara Normal

Dalam praktik medis, sel punca dapat bersumber dari sumsum tulang, darah perifer, serta darah dan jaringan tali pusat. Setiap sumber memiliki karakteristik dan tantangan tersendiri, terutama terkait tingkat kecocokan donor dan ketersediaan sel.

Medical Advisor PT Cordlife Persada, Dr. Meriana Virtin, menjelaskan bahwa transplantasi sel punca hematopoietik telah digunakan untuk menangani berbagai penyakit serius. 

"Transplantasi sel punca dapat dimanfaatkan untuk kelainan darah bawaan seperti thalasemia, kanker darah pada anak seperti leukemia, penyakit metabolik, hingga gangguan sistem kekebalan tubuh berat,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (30/1/2026).

Salah satu tantangan utama dalam terapi sel punca adalah pemenuhan kecocokan donor. Pada transplantasi yang bersumber dari sumsum tulang, tingkat kecocokan donor harus mencapai 100% agar prosedur dapat dilakukan dengan aman. 

Kondisi ini sering kali menyulitkan pasien, terutama ketika terapi harus segera dilakukan. Sebaliknya, sel punca yang berasal dari darah tali pusat cenderung lebih toleran karena tidak mensyaratkan kecocokan sempurna antara donor dan penerima.

Darah tali pusat sendiri dapat dikumpulkan saat kelahiran dan disimpan dalam kondisi khusus untuk menjaga viabilitas sel punca di dalamnya. Karakteristik inilah yang membuat darah tali pusat semakin dilirik sebagai sumber sel punca alternatif, terutama untuk kebutuhan terapi di kemudian hari.

Di Indonesia, terapi sel punca telah berkembang sebagai inovasi dalam penanganan penyakit berat seperti kelainan darah bawaan, kanker, penyakit autoimun, hingga stroke. 

Perkembangan ini didukung oleh regulasi yang ketat melalui Undang-Undang No.17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, yang mengatur bahwa terapi berbasis sel hanya dapat dilakukan apabila terbukti aman dan bermanfaat, serta memenuhi standar mutu yang ditetapkan Kementerian Kesehatan.

Baca Juga: Penjualan Kendaraan Roda Dua Suzuki Tembus 16.000 Unit

Meski saat ini masih berada dalam kerangka penelitian berbasis pelayanan, terapi sel punca semakin mendapat perhatian masyarakat sebagai alternatif dari terapi konvensional. Pada kasus thalasemia, misalnya, transplantasi sel punca yang dilakukan sejak usia dini diketahui memberikan hasil lebih optimal, dengan peluang mengurangi ketergantungan pasien terhadap transfusi darah rutin.

Seiring kemajuan riset dan teknologi medis, terapi sel punca diproyeksikan akan semakin berperan dalam ekosistem layanan kesehatan nasional. Upaya pencarian sumber sel punca yang lebih mudah diakses, aman, dan efektif pun menjadi bagian penting dalam mendorong pengembangan terapi ini sebagai solusi berkelanjutan bagi pasien di masa depan.

Selanjutnya: Insentif Otomotif 2026 Masih Abu-abu, Gaikindo Pilih Bekerja Secara Normal

Menarik Dibaca: Bitcoin Ambles Hampir 6%, Sinyal Bearish atau Volatilitas Jangka Pendek?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×