Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perjanjian resiprokal antara Amerika Serikat (AS) dan Indonesia yang membebaskan tarif impor kopi Indonesia dinilai membuka peluang peningkatan daya saing di pasar global.
Sekretaris Jenderal Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI) Gusti Laksamana mengatakan, kebijakan tarif 0% menjadi kabar baik bagi eksportir, mengingat AS merupakan salah satu pasar utama kopi Indonesia.
“Harga kopi kita tidak terlalu murah juga di pasar global, jadi dengan kita mendapatkan 0% sebenarnya bukan hanya angin segar lagi,” ujarnya, Kamis (26/2/2026).
Baca Juga: Bakal Impor 1 Juta Bioetanol dari AS, Apsendo Minta Kepastian Pasar Dalam Negeri
Namun, di balik peluang tersebut, Gusti menyoroti tantangan utama industri kopi nasional justru berada di sisi hulu.
Produksi kopi arabika Indonesia selama 15 tahun terakhir stagnan di kisaran 1,6 juta kantong per tahun, dengan satu kantong berbobot sekitar 60 kilogram (kg).
“Angka itu tidak pernah benar-benar naik. Beda dengan produsen lain seperti Brasil atau Kolombia yang produksinya fluktuatif, kita cenderung datar,” jelasnya.
Untuk tahun ini, ia memperkirakan produksi masih berada di kisaran yang sama, tidak lebih dari 1,6 juta kantong.
Selain itu, bencana di Sumatra sejak akhir tahun lalu turut menekan produksi, terutama karena gangguan akses jalan menuju kebun kopi.
Baca Juga: Pengamat ITB: Impor Bioetanol AS Perlu Standar Ketat dan Adaptasi Iklim Tropis
Genjot Ekspor Lewat Pameran
Untuk mendorong ekspor, SCAI akan menggelar Indonesia Coffee Expo (ICX) 2026 di tiga kota: Surabaya (29–31 Mei 2026), Medan (31 Juli–2 Agustus 2026), dan Jakarta (4–6 September 2026).
Menurut Gusti, ajang tersebut menjadi sarana untuk memamerkan keunggulan cita rasa kopi Indonesia ke pasar global.
Ia menambahkan, kopi kini tak lagi dipandang sekadar komoditas, melainkan juga penggerak ekonomi kreatif, seiring berkembangnya inovasi teknik penyeduhan, budidaya, hingga aspek kesehatan.
Sementara itu, Ketua Departemen Specialty & Industri BPP Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), Moelyono Soesilo, menilai tantangan ekspor kopi Indonesia juga terletak pada aspek logistik.
Baca Juga: Tarif Kopi ke AS 0%, Peluang Ekspor Menguat di Tengah Tantangan Produksi
“Waktu pengapalan lebih lama dibanding kopi dari negara-negara di Amerika Selatan,” katanya, Minggu (1/3/2026).
Ia juga menyoroti keterbatasan konsistensi pasokan akibat meningkatnya konsumsi kopi domestik.
Ke depan, AEKI berharap pemerintah memperkuat dukungan terhadap industri kopi nasional, termasuk melalui riset varietas unggulan yang lebih produktif dan tahan terhadap cuaca ekstrem
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













