kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.613.000   23.000   0,89%
  • USD/IDR 17.924   -15,00   -0,08%
  • IDX 6.242   -56,72   -0,90%
  • KOMPAS100 813   -5,85   -0,71%
  • LQ45 621   -2,15   -0,35%
  • ISSI 215   -3,31   -1,52%
  • IDX30 344   -1,09   -0,32%
  • IDXHIDIV20 429   0,02   0,00%
  • IDX80 93   -0,53   -0,57%
  • IDXV30 116   -0,90   -0,76%
  • IDXQ30 111   -0,10   -0,09%

Tekan impor solar, pemerintah genjot biodiesel


Rabu, 28 Agustus 2013 / 11:43 WIB
ILUSTRASI. Emas Antam.


Reporter: Adhitya Himawan | Editor: Dikky Setiawan

JAKARTA. Menteri Perindustrian MS Hidayat menilai, gejolak pasar keuangan dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah menyebabkan sektor industri nasional harus mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak dan gas bumi (migas).

Oleh sebab itu, menurut Hidayat, pemerintah akan berusaha meningkatkan porsi biodiesel dalam penjualan biosolar.

"Saat ini pemanfaatan biodiesel sebagai sumber energi untuk kendaraan bermotor dan industri mencapai 699.000 kilo liter (KL) dari total penggunaan solar sebesar 35 juta KL," kata Hidayat kepada KONTAN di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (28/8).

Dengan realisasi porsi biodiesel yang baru mencapai 1,91%, Hidayat menegaskan, pemerintah bertekad mengurangi impor solar.

Caranya, dengan kebijakan berupa peningkatan porsi biodiesel dalam biosolar menjadi 10% atau setara dengan 3,5 juta KL biodiesel.

Politisi Golkar tersebut optimistis, peningkatan porsi biodiesel dapat tercapai. "Sebab di dalam negeri, kapasitas terpasang saat ini sebesar 5,6 juta KL," kata Hidayat.

Hidayat menambahkan, melalui kebijakan peningkatan porsi biodiesel tersebut, bisa menghemat devisa impor solar sebesar US$ 2,8 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×