Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri otomotif global mulai memasuki babak baru. Persaingan tidak lagi hanya bertumpu pada performa mesin, efisiensi bahan bakar, atau desain kendaraan, tetapi juga pada kemampuan kendaraan mengenali potensi bahaya dan membantu mencegah kecelakaan.
Perubahan arah tersebut menjadi salah satu sorotan dalam ajang GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026.
Baca Juga: Samudera (SMDR) Buka Rute Pelayaran Baru Hubungkan India dan Kawasan Teluk
Pameran otomotif tahunan ini tak hanya menjadi panggung peluncuran model-model terbaru, tetapi juga menunjukkan perkembangan teknologi keselamatan yang semakin terintegrasi pada kendaraan modern.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, masa depan industri otomotif akan sangat ditentukan oleh keputusan investasi dan pengembangan teknologi yang dilakukan saat ini, termasuk inovasi di bidang keselamatan kendaraan.
Tema "Eye of the Future" yang diusung GIIAS 2026 mencerminkan transformasi tersebut. Inovasi otomotif kini tidak lagi hanya diukur dari kecanggihan teknologi, tetapi juga dari kemampuan kendaraan melindungi pengemudi, penumpang, dan pengguna jalan lainnya.
Vice Compartment Future Automotive Technology & Renewable Energy GAIKINDO Ardhana Wiranata mengatakan, perkembangan industri otomotif kini bergerak menuju peningkatan standar keselamatan sebagai salah satu indikator utama.
"Perkembangan teknologi mendorong budaya berkendara yang semakin aman dan efisien. Tantangannya sekarang bukan cuma membuat teknologi semakin canggih, tetapi juga memastikan masyarakat benar-benar memahami dan mampu memanfaatkannya secara optimal," ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (7/8/2026).
Baca Juga: MRCCC Siloam Semanggi Tambah Empat Teknologi Berbasis AI untuk Penanganan Kanker
Salah satu implementasi teknologi tersebut ditampilkan melalui kolaborasi GAIKINDO dan Bosch Indonesia yang menghadirkan booth Safety & Advanced Technology.
Melalui area ini, pengunjung dapat melihat bagaimana berbagai teknologi keselamatan bekerja sebagai satu sistem yang saling terintegrasi.
Dalam praktiknya, potensi kecelakaan dapat terjadi hanya dalam hitungan detik, mulai dari kendaraan di depan yang mengerem mendadak, pejalan kaki yang tiba-tiba menyeberang, hingga sepeda motor yang muncul dari titik buta.
Pada kondisi seperti itu, kemampuan kendaraan mendeteksi dan merespons risiko menjadi faktor yang sangat penting.
Director of Mobility Solutions Bosch Indonesia Bernard Simanjuntak menjelaskan bahwa teknologi keselamatan modern tidak lagi sekadar menjadi fitur pelengkap, melainkan telah berkembang menjadi sistem aktif yang mampu memberikan respons cepat sesuai kondisi di jalan.
"Teknologi keselamatan sekarang bukan cuma soal menambah fitur. Yang lebih penting adalah bagaimana sistem dapat memberikan respons yang tepat pada situasi yang tepat, apalagi kondisi lalu lintas kini semakin kompleks," katanya.
Baca Juga: Tracon Industri Gelontorkan Rp 7,7 Miliar Perluas Warehouse & Workshop di Subang
Bosch menjelaskan teknologi tersebut bekerja melalui tiga tahapan utama, yaitu sense, think, dan act.
Pada tahap sense, kendaraan menggunakan kamera, radar, dan sensor ultrasonik sebagai "mata tambahan" untuk memantau kondisi di sekitar kendaraan.
Selanjutnya pada tahap think, sistem komputasi mengolah seluruh data tersebut dalam hitungan milidetik untuk mengidentifikasi potensi bahaya.
Setelah itu, pada tahap act, berbagai sistem bantuan pengemudi, seperti Automatic Emergency Braking (AEB), dapat memberikan respons secara otomatis untuk mengurangi risiko kecelakaan.
Melalui integrasi tersebut, kendaraan modern tidak hanya dirancang untuk meminimalkan dampak kecelakaan, tetapi juga membantu pengemudi mengantisipasi potensi risiko sebelum insiden terjadi.
Arah pengembangan tersebut sejalan dengan Global Road Safety Target 5 yang diinisiasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang menargetkan peningkatan standar keselamatan kendaraan secara global pada 2030.
Baca Juga: Vitafoods Asia 2026 Hadir 30% Lebih Besar, Diikuti Lebih dari 800 Perusahaan
Di Indonesia, upaya tersebut juga sejalan dengan Rencana Umum Nasional Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (RUNK LLAJ) yang menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama.
Meski demikian, pelaku industri menilai pengembangan teknologi saja belum cukup. Kesiapan ekosistem, mulai dari penguasaan teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hingga perawatan kendaraan secara berkala, juga menjadi faktor penting agar seluruh sistem keselamatan dapat berfungsi secara optimal.
Selain memperkenalkan teknologi, Bosch juga terus mendorong edukasi kepada masyarakat mengenai cara kerja berbagai sistem keselamatan modern.
Upaya tersebut didukung melalui lini Mobility Aftermarket yang menyediakan beragam komponen penunjang keselamatan, seperti wiper, sistem pencahayaan, hingga suku cadang lainnya.
Baca Juga: Erajaya (ERAA) Ekspansi di Sektor F&B, Bangun Usaha Patungan dengan Oriental Coffee
Dalam GIIAS 2026, Bosch turut menghadirkan program sosial yang mengajak pengunjung berkontribusi terhadap peningkatan keselamatan di jalan. Setiap pembelian produk tertentu selama pameran akan dikonversi menjadi donasi untuk mendukung peremajaan 100 unit ambulans di berbagai daerah di Indonesia.
Inisiatif tersebut menegaskan bahwa masa depan industri otomotif tidak hanya ditentukan oleh inovasi teknologi, tetapi juga oleh kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dalam membangun ekosistem keselamatan berkendara yang lebih baik, inklusif, dan berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
