kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.595.000   15.000   0,58%
  • USD/IDR 17.885   -103,00   -0,57%
  • IDX 6.111   -11,13   -0,18%
  • KOMPAS100 791   -1,98   -0,25%
  • LQ45 606   -2,01   -0,33%
  • ISSI 212   0,17   0,08%
  • IDX30 336   -1,42   -0,42%
  • IDXHIDIV20 427   0,66   0,15%
  • IDX80 90   -0,22   -0,24%
  • IDXV30 116   0,47   0,41%
  • IDXQ30 110   -0,07   -0,06%

Tok! RUPTL 2018 – 2027 resmi disahkan


Selasa, 13 Maret 2018 / 22:51 WIB


Reporter: Pratama Guitarra | Editor: Yudho Winarto

Jonan bilang, ini jadi disusun berdasarkan proyeksi. Sementara untuk CODnya setiap pembangkit itu, dicocokan dengan proyeksi pertumbuhan kebutuhan listrik di setiap wilayah.

“Selama ini pemerintah melalui PLN kalau pertumbuhan ekonominya melonjak, mestinya masih cukup. Cadangan di daerah kan paling tidak 30%,” tandasnya.

Proyek HVDC sebatas Opsi

Direktur Perencanaan Korporat PLN, Syofvi Felienty Roekman mengatakan proyek kabel bawah laut atau High Voltage Direct Current (HVDC) masih menjadi opsi dalam RUPTL 2018 -2027. Ia bilang bahwa pada prinsipnya PLN butuh interkoneksi antara Jawa - Sumatra dan Jawa - Bali.

“Interkoneksi di Sumatera kita targetkan 2026. Sekarang masih kami kaji. Ini kan sudah berjalan, nah sekarang di RUPTL opsinya masih ada,” terangnya.

Sementara untuk opsi High Voltage Alternating Current (HVAC)nya pun masih ada dalam RUPT. Hanya saja, kata Syofvi, PLN masih akan melihat evaluasi lebih dalam lagi dengan kondisi teknologi saat ini.

“Apakah ini akan continue. Tapi prinsip interkoneksi itu tetap harus dilakukan,” tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×