kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.902.000   75.000   2,65%
  • USD/IDR 17.037   -12,00   -0,07%
  • IDX 7.157   108,46   1,54%
  • KOMPAS100 988   16,36   1,68%
  • LQ45 725   9,62   1,34%
  • ISSI 255   3,99   1,59%
  • IDX30 393   4,24   1,09%
  • IDXHIDIV20 488   0,91   0,19%
  • IDX80 111   1,71   1,56%
  • IDXV30 135   -0,02   -0,02%
  • IDXQ30 128   1,15   0,91%

Vale Indonesia (INCO) masih mengkaji Permen ESDM terbaru soal divestasi


Senin, 08 Oktober 2018 / 17:13 WIB
ILUSTRASI. Penambangan NIKEL Vale Indonesia Tbk INCO


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Handoyo

Ia juga menyebutkan bahwa calon partner Vale Indonesia untuk pembangunan pabrik pengolahan di Pomala adalah Sumitomo Metal Mining. Sementara untuk Bahadopi, calonnya adalah beberapa perusahaan dari Tiongkok dan Jerman. “Calon partner kami di Pomala, Sumitomo Metal Mining. Di Bahodopi ada beberapa perusahaan awal Tiongkok dan Jerman yang belum bisa di-disclose,” ungkapnya.

Soal kinerja produksi dan penjualan terkini, Budi masih belum bersedia membeberkan rinciannya. Namun Budi bilang, untuk penjualan nikel, seluruhnya masih 100% diekspor ke Jepang. 

Mengingat PT Vale memiliki Kontrak penjualan nikel jangka panjang dengan Sumitomo Metal Mining dan Vale Canada Limited. “100% ke Jepang. Kontrak dengan Vale Canada juga dikirim ke Jepang,” ujarnya.

Karenanya, Budi menyebut, pelemahan rupiah yang belakangan ini terjadi memberikan dampak positif bagi Vale Indonesia. Hal ini mengingat 100% revenue Vale Indonesia ada dalam dollar Amerika Serikat, sedangkan sebagian cost dalam rupiah.

Mengenai produksi, menurut catatan Kontan.co.id, total produksi nikel Vale selama semester I-2018 mengalami penurunan 3,59% menjadi 36.034 ton dibangkan produksi pada semester I-2017 sebesar 37.331 ton. Sementara untuk produksi tahun ini Vale mematok target sebesar 77.000 ton.

Selain diakibatkan adanya penundaan beberapa aktivitas pemeliharaan, penurunan produksi tersebut juga disebabkan oleh tingkat kandungan nikel rata-rata yang lebih rendah selama tiga bulan pertama 2018. “Penundaan aktivitas pemeliharaan hanya berdampak pada Q2. Sedangkan Semester I hanya terkait nikel grade yang mana sudah membaik di Q3,” tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×