kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

12 perusahaan ayam terindikasi terlibat kartel


Rabu, 03 Februari 2016 / 17:26 WIB


Reporter: Noverius Laoli | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menduga 12 perusahaan ternak ayam yang melakukan afkir dini terhadap bibit ayam atau Parent Stock (PS) melakukan kartel.

Wasit persaingan usaha ini, makin yakin adanya kartel setelah menemukan adanya kesepakatan tertulis di antara para pihak untuk mengurangi stok ayam ke pasar agar harga bisa kembali tinggi.

Apalagi, ke-12 perusahaan ayam tersebut menguasai 90% pangsa pasar ayam di Indonesia. Selain itu, perusahaan ini juga memiliki bisnis terintegrasi dari hulu ke hilir seperti pakan ternak, DOC (day old chicken), obat, hingga produk olahannya.

Dengan demikian, mereka memiliki kemampuan mengendalikan dan menentukan harga pasar ayam. Perusahaan ayam ini antara lain adalah PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk dan PT Malindo Feedmil Tbk.

Ketua KPPU M. Syarkawi Rauf mengatakan pihaknya telah menemukan alat bukti yang kuat dalam bentuk bukti perjanjian tertulis yang menyepakati soal upaya pengurangan pasokan ke pasaran untuk mengendalikan harga ayam.

KPPU juga melengkapinya dengan keterangan saksi, dan keterangan saksi ahli. KPPU menilai upaya mereka menahan pasokan ayam membuat harga daging ayam melambung tinggi.

Persekongkolan di antara mereka berhasil mematikan petani ayam karena menggelontorkan suplai ayam secara bersama-sama sehingga harga ayam anjlok. Dampak dari pengafkiran dini juga berhasil mendongkrak harga sekitar Rp 40.000 per ekor. Padahal sebelumnya harga ayam rata-rata Rp 32.000 per ekor di tingkat konsumen.

Akibatnya, saat ini harga ayam bertahan tinggi dan tidak turun-turun lagi. "Padahal untuk menghasilkan PS itu butuh waktu lama, ada sekitar satu tahun lebih agar bisa menghasilkan sampai ke DOC," ujar Syarkawi kepada KONTAN, Rabu (3/2).

Syarkawi bilang, bila hal itu terjadi, maka Indonesia akan kekurangan stok ayam PS dan membuka peluang impor PS ke depan. Padahal, untuk menahan laju penurunan harga ayam, bukan dengan cara pengafkiran dini. Ada banyak cara yang bisa ditempuh, tapi tampaknya mereka lebih tertarik melakukan pengafkiran dini karena ada upaya untuk bersekongkol terlibat kartel.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×