kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.773.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

Amdatara Soroti Tantangan Industri, dari Krisis Geopolitik hingga Ekonomi Sirkular


Minggu, 24 Mei 2026 / 19:16 WIB
Amdatara Soroti Tantangan Industri, dari Krisis Geopolitik hingga Ekonomi Sirkular
ILUSTRASI. AMDK Galon (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah tantangan industri yang semakin kompleks, pelaku usaha air minum dalam kemasan (AMDK) menyusun arah strategis pengembangan industri ke depan.

Mulai isu pengelolaan sumber daya air, pengawasan produk ilegal, hingga tuntutan implementasi ekonomi sirkular menjadi perhatian utama pelaku industri di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh tekanan.

Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Air Dalam Kemasan Nusantara (Amdatara), Karyanto Wibowo mengatakan, industri AMDK saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, baik dari sisi domestik maupun global. Menurut dia, industri dihadapkan pada persoalan pengelolaan sumber daya air, pengawasan terhadap produk ilegal, hingga percepatan implementasi ekonomi sirkular.

Baca Juga: Kementerian ESDM dan DEN Minta PLN Tingkatkan Keandalan Sistem Listrik Sumatra

Di saat yang sama, dinamika global seperti krisis geopolitik juga berdampak terhadap kenaikan biaya energi, bahan baku, serta gangguan rantai pasok. "Kondisi tersebut menuntut industri untuk semakin adaptif, efisien, dan inovatif," kata Karyanto, dalam keterangannya, Sabtu (23/5). 

Untuk menjawab tantangan tersebut, Amdatara terus mendorong sejumlah agenda strategis. Beberapa di antaranya meliputi penguatan kepatuhan terhadap standar BPOM dan SNI, implementasi ekonomi sirkular dan skema extended producer responsibility (EPR), peningkatan ketahanan rantai pasok, serta penguatan praktik pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan.

Wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten  menjadi salah satu kontributor utama industri AMDK nasional. Maka, penguatan organisasi di wilayah tersebut dinilai penting untuk memastikan industri terus berkembang dengan tetap menjunjung kualitas, keamanan produk, dan keberlanjutan lingkungan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×