Reporter: Vina Elvira | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri air minum dalam kemasan (AMDK) menatap tahun 2026 dengan sikap positif. Optimisme ini sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional serta tren gaya hidup sehat yang diproyeksi akan meningkatkan permintaan AMDK ke depan.
Ketua Umum Asosiasi Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Amdatara) Karyanto Wibowo mengatakan bahwa industri AMDK berharap tetap mencatatkan pertumbuhan pada 2026 dengan konsumsi sebagai pemicu utama.
“Untuk tahun 2026, kita berharap kita masih bisa terus tumbuh positif. Trigger-nya lebih ke konsumsi,” ujar Karyanto, dalam konferensi pers Rakernas I AMDATARA pada Selasa (3/2).
Menurut Karyanto, salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan industri AMDK saat ini adalah perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin mengarah pada pola hidup sehat. Selain itu, pertumbuhan industri AMDK juga dinilai sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional.
Baca Juga: GIS Perkuat Komitmen ESG dalam Strategi Bisnis 2026
Amdatara memproyeksikan pertumbuhan industri AMDK tahun ini, setidaknya akan sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi nasional, yakni di angka sekitar 5%.
Ia memaparkan, Industri AMDK juga berhasil mencatatkan kinerja positif sepanjang 2025. Pertumbuhan industri AMDK berada di kisaran 5,1%–5,2%, sejalan dengan pertumbuhan industri makanan dan minuman secara keseluruhan di Indonesia.
“Secara keseluruhan industri makanan dan minuman sedikit lebih tinggi dibandingkan AMDK, kurang lebih angkanya sekitar 6% pada tahun 2025, tapi kontribusi AMDK berada di kisaran 5,1%-5,2%,” ujarnya.
Dari sisi nilai, Karyanto menyebut total pendapatan industri AMDK mencapai sekitar Rp20 triliun per tahun.
Tantangan Regulasi Kemasan dan Isu Sampah
Meski prospek pertumbuhan dinilai positif, industri AMDK masih dihadapkan pada sejumlah tantangan, di antaranya terkait regulasi kemasan dan isu lingkungan. Karyanto menuturkan, penggunaan kemasan plastik sekali pakai masih menjadi sorotan utama.
“Di sisi lain, isu sampah memang cukup mengemuka di Indonesia karena pengelolaan waste management-nya masih belum optimal, sehingga industri ini sering kali terekspos dengan isu-isu tersebut,” ujar Karyanto.
Saat ini, pemerintah tengah menyiapkan regulasi berupa Peraturan Presiden (Perpres) tentang Tanggung Jawab Produsen yang Diperluas (EPR) yang akan mengatur kontribusi industri dalam pengelolaan sampah.
Amdatara menyatakan mendukung langkah pemerintah dalam mengatasi permasalahan sampah melalui regulasi. Namun, Karyanto menekankan pentingnya penerapan aturan yang inklusif.
“Posisi kami dari industri secara keseluruhan tentunya mendukung upaya pemerintah untuk mengatasi permasalahan sampah, termasuk dibuatnya suatu regulasi yang pada akhirnya akan mengatur industri di dalamnya. Tetapi harapannya aturan tersebut bisa diterapkan secara inklusif, artinya tidak hanya mengatur industri, tetapi juga kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi oleh pemerintah dan masyarakat,” lanjutnya.
Untuk menjaga pertumbuhan industri ke depan, Karyanto menyebut ada beberapa strategi utama yang perlu diperkuat. Pertama, menjaga dan meningkatkan kualitas produk, karena produk AMDK diatur dengan sangat ketat oleh berbagai regulator seperti BPOM, Kementerian Perindustrian, SNI, sertifikasi halal, dan lain sebagainya.
Kedua, industri perlu terus berinovasi sesuai dengan kebutuhan konsumen, seperti produk dengan karakteristik tertentu. Misalnya, produk dengan pH tinggi, atau produk yang lebih ramah lingkungan, termasuk penggunaan bahan daur ulang.
Ketiga, penguatan strategi pemasaran juga menjadi kunci agar produk AMDK tetap relevan.
“Karena produk AMDK pada dasarnya adalah air minum dalam kemasan yang tidak memiliki variasi rasa seperti produk minuman berperisa, maka tantangannya adalah bagaimana memastikan produk AMDK tetap relevan dan menarik bagi konsumen dalam kehidupan sehari-hari,” tandasnya.
Baca Juga: SCG Indonesia Memacu Pemasaran Semen Rendah Karbon di Segmen B2B dan B2C
Selanjutnya: RKAB Dipangkas Hingga 70%, Tambang Batubara Waspadai PHK
Menarik Dibaca: Waspada Kolesterol Tinggi Mengintai, 5 Jus Ini Bisa jadi Solusi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












