kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.850.000   7.000   0,25%
  • USD/IDR 16.902   -19,00   -0,11%
  • IDX 7.302   195,28   2,75%
  • KOMPAS100 1.013   35,14   3,59%
  • LQ45 746   24,04   3,33%
  • ISSI 258   9,10   3,66%
  • IDX30 407   13,79   3,51%
  • IDXHIDIV20 510   21,50   4,40%
  • IDX80 114   3,88   3,53%
  • IDXV30 138   3,76   2,79%
  • IDXQ30 133   5,61   4,40%

Askindo Ungkapkan Tantangan Praktik Fermentasi Kakao di Tingkat Petani


Rabu, 25 Maret 2026 / 18:48 WIB
Askindo Ungkapkan Tantangan Praktik Fermentasi Kakao di Tingkat Petani
ILUSTRASI. Target peremajaaan kakao nasional (ANTARA FOTO/SYIFA YULINNAS)


Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) menilai praktik fermentasi biji kakao di tingkat petani belum banyak dilakukan karena membutuhkan waktu lebih lama, serta kepastian akses pasar bagi petani.

Ketua Umum Askindo, Jeffrey Haribowo mengatakan, fermentasi membutuhkan waktu yang relatif panjang, yaitu sekitar empat hingga enam hari, belum termasuk penjemuran untuk menghasilkan biji kakao kering terfermentasi yang baik. 

Upaya tambahan yang dilakukan petani tersebut, lanjutnya, tentu memerlukan kepastian akses pasar agar biji kakao fermentasi bisa dibeli oleh pembuat cokelat dengan harga yang baik.

Baca Juga: Pasar Konsumen RI Masih Terbuka, Peluang Ekspansi Dinilai Besar

Maka menurut Jeffrey, jika tak ada akses pasar, tidak menutup kemungkinan bagi petani untuk langsung mengeringkan biji kakaonya sebagai biji asalan. 

"Kuncinya adalah bertemunya pengguna kakao fermentasi dan pelaku fermentasi," ujarnya kepada Kontan, Rabu (25/3/2026).

Dari sisi industri pengolahan kakao, lanjut Jeffrey, mayoritas pelaku usaha memproduksi lemak kakao atau cocoa butter yang kebutuhannya tidak memerlukan fermentasi. "Pada tahun 2024, Indonesia dapat melakukan ekspor lemak kakao dengan volume sekitar 130.000 ton," imbuhnya.

Di sisi lain, Jeffrey menyebut, tantangan utama dari pengembangan produk hilir biji kakao baik fermentasi maupun non-fermentasi ialah ketersediaan bahan baku bagi industri pengolahan.

Oleh karena itu, ia bilang, Askindo mendukung upaya peningkatan kualitas kakao Indonesia, mulai dari kebun hingga pada penguatan industri. Upaya pemerintah dalam menggalakkan upaya revitalisasi tanaman kakao juga dinilai sebagai langkah yang baik. Yang mana, lebih dari 99% luasan tanam dikelola oleh petani mandiri atau smallholder farmer.

"Pemerintah juga sudah merencanakan program peremajaan yang akan didanai oleh APBN dan juga Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) seluas 240.000 hektare hingga 2027," imbuh Jeffrey.

Baca Juga: Krisis Minyak dan Gas, Perhapi Ungkap Potensi Peningkatan Penggunaan Batubara

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×