Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) mengungkapkan bahwa sebagian besar biji kakao Indonesia terserap oleh industri pengolahan kakao dalam negeri.
“Maka, (industri pengolahan) sudah memberikan nilai tambah berupa produk setengah jadi untuk keperluan pasar domestik dan ekspor,” kata Ketua Umum DPP Askindo, Jeffrey Haribowo kepada Kontan, Senin (2/2/2026).
Kondisi ini dinilai menjadi fondasi penting bagi penguatan rantai nilai industri kakao nasional. Dengan penyerapan bahan baku di dalam negeri, industri pengolahan mampu menciptakan nilai tambah melalui produk setengah jadi seperti cocoa liquor, cocoa butter, dan cocoa powder yang dibutuhkan baik untuk pasar domestik maupun ekspor.
Baca Juga: Dekaindo Proyeksikan Ekspor Kakao Tumbuh 10% di Tahun 2026
Askindo pun berharap kinerja industri pengolahan kakao dapat terus berkembang. Salah satu upaya yang dapat dioptimalkan adalah peningkatan serapan bahan baku dari dalam negeri, seiring dengan potensi perbaikan produksi biji kakao nasional.
Dalam implementasinya, Jeffrey menekankan pentingnya kolaborasi antara industri dan petani kakao untuk meningkatkan produktivitas tanaman. Upaya peningkatan produktivitas dinilai krusial mengingat sektor hulu masih menghadapi berbagai tantangan.
Mengoptimalkan produktivitas kebun kakao disebut masih menjadi pekerjaan rumah bagi para pelaku usaha. Meski demikian, Jeffrey optimistis tren produksi biji kakao Indonesia ke depan akan menunjukkan pertumbuhan.
Optimisme ini didukung oleh data International Cocoa Organization (ICCO) yang mulai menunjukkan adanya potensi peningkatan produksi biji kakao Indonesia, setelah mengalami penurunan dalam satu dekade terakhir.
“Saat ini kami sedang berkoordinasi secara intentif dengan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) untuk mendapatkan gambaran lebih akurat terkait pertumbuhan industri pengolahan kakao 2025,” jelasnya.
Baca Juga: Harga Referensi CPO dan Biji Kakao Kompak Naik pada Februari 2026
Dari sisi perdagangan luar negeri, Askindo juga mencermati dinamika kenaikan harga referensi dan harga patokan ekspor (HPE) yang dipengaruhi pergerakan harga kakao di pasar global.
“(Peningkatan) HR dan HPE tentunya berdampak bagi eksportir biji kakao, dan negara perlu menyesuaikan dengan harga kakao global,” katanya.
Sebagai informasi, harga referensi biji kakao pada Februari 2026 ditetapkan sebesar US$ 5.717,45 per metric ton (MT), meningkat 0,97% dibanding Januari 2026.
Kenaikan ini turut mendorong Harga Patokan Ekspor (HPE) biji kakao menjadi US$ 5.350 per MT, atau tumbuh 1,03% secara bulanan.
Selanjutnya: PTPN IV PalmCo Raup US$ 10,5 Juta dari Penjualan CPO Bersertifikasi RSPO
Menarik Dibaca: Hindari Boros! Money Parenting Lindungi Anak dari Jebakan Utang
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













