kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.819.000   -17.000   -0,93%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Aspermigas: Beban biaya perusahaan migas bisa naik jika sumur produksi tak beroperasi


Senin, 27 April 2020 / 20:55 WIB
Aspermigas: Beban biaya perusahaan migas bisa naik jika sumur produksi tak beroperasi
ILUSTRASI. logo Pertamina dan Perusahaan Gas Negara PGN


Reporter: Dimas Andi | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren pelemahan harga minyak global masih terus terjadi sehingga mempengaruhi industri minyak dan gas (migas) seluruh negara, termasuk Indonesia.

Asosiasi Perusahaan Migas Indonesia (Aspermigas) menilai, para pelaku pasar masih memperkirakan adanya potensi surplus minyak global. Surplus ini lah yang harus segera dihilangkan oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak atau OPEC serta Rusia melalui penurunan produksi secara bertahap.

Pemerintah Indonesia sendiri meminta agar kegiatan hulu dan hilir migas tetap berjalan kendati kebutuhan minyak dalam negeri berkurang seiring pandemi virus corona.

Baca Juga: Harga BBM tak kunjung turun, KPPU berencana minta keterangan ESDM

“Dalam beberapa laporan, kebutuhan minyak negara-negara di dunia sudah turun lebih dari 20%. Lalu, apakah negara-negara produsen mau menurunkan produksi hingga 30%,” ungkap Ketua Umum Aspermigas John Karamoy, Senin (27/4).

Menurutnya, dunia sedang dihadapkan pada kondisi di mana produksi minyak digenjot lebih banyak dari kebutuhan yang ada sehingga tangki atau kilang menjadi penuh. Bahkan dalam kondisi harga minyak yang rendah seperti sekarang, masih ada sumur-sumur minyak yang harus tetap berproduksi.

John berpendapat, di tengah penurunan harga minyak yang cukup tajam, opsi pengosongan kilang dapat dilakukan sehingga minyak yang ada di sana dapat dijual dengan harga miring.

Hal ini justru lebih baik dilakukan dibandingkan menyetop sumur produksi. Pasalnya, biaya yang dibebankan ke perusahaan migas akan lebih tinggi, terutama ketika menghidupkan kembali sumur produksi yang sempat berhenti beroperasi.

Di luar itu, dalam waktu dekat, John menilai, pergerakan harga minyak dunia akan bergantung pada upaya OPEC dan Rusia dalam menurunkan produksi minyak secara global.

Ada ungkapan bahwa apabila kesepakatan antara OPEC dan Rusia tidak terjadi, maka dalam dua bulan ke depan, semua kilang penampungan dan penyimpanan minyak di dunia akan penuh. Alhasil, harga minyak akan terancam turun di bawah US$ 10 per barel. “Skenario ini mudah-mudahan tidak akan terjadi,” tambah John.

Ia melanjutkan, hal yang masih sulit diduga saat ini adalah kapan masalah virus corona dapat diatasi oleh dunia, termasuk seberapa lama perekonomian dunia akan terus tertekan sebelum kembali membaik.

Baca Juga: Aspermigas: Anjloknya harga minyak akan timbulkan respons beragam pebisnis

“Harga minyak dunia akan ditentukan oleh perkembangan ekonomi global di tengah wabah Covid-19,” terang dia.

Sebagai catatan, harga minyak dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) di New York Mercantile Exchange (Nymex) kontrak Juni 2020 anjlok 16,71% ke level US$ 14,11 per barel pada Senin (27/4) pukul 18.50 WIB. Sementara harga minyak Brent di ICE Futures kontrak Juni 2020 terperosok 4,29% ke level US$ 20,52 per barel.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×