Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Industri Minuman Ringan (Asrim) menyoroti sejumlah tantangan yang dihadapi para pelaku usaha industri minuman ringan pada tahun 2026 ini.
Ketua Umum Asrim, Triyono Prijosoesilo mengatakan, rencana penerapan cukai minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) menjadi salah satu hambatan keberlanjutan usaha para pelaku industri.
Meskipun demikian, Asrim mengapresiasi keputusan pemerintah untuk menunda implementasi kebijakan tersebut.
Baca Juga: Cukai MBDK Ditunda, Industri Minuman 2026 Dapat Napas di Tengah Lesunya Daya Beli
"Satu sisi kami sangat apresiasi pemerintah, Menteri Keuangan Pak Purbaya menyampaikan bahwa rencana cukai MBDK ditahan dulu. Karena pemerintah ingin melihat pertumbuhan dulu terjadi," jelasnya dalam konferensi pers Asrim di Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Menurut Triyono, Asrim menyadari bahwa tujuan rencana penerapan cukai MBDK tak lain untuk mendukung aspek kesehatan.
Kendati begitu, Asrim menilai perlu ada diskusi lebih lanjut dengan pelaku usaha terkait efektivitas penerapan cukai untuk mendorong kesehatan masyarakat.
Selain cukai MBDK, ia mencermati pemerintah juga menyiapkan kebijakan pelabelan gizi bagian depan kemasan atau Front of Pack Nutrition Labeling (FOPNL) untuk mengidentifikasi tingkat kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) dalam sebuah produk.
Triyono bilang, kebijakan yang juga dikenal sebagai skema Nutri Level ini telah diluncurkan untuk pangan siap saji. Sementara, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tengah mempersiapkan kebijakan serupa untuk produk dalam kemasan.
Baca Juga: Pengusaha Sambut Penundaan Cukai Minuman Berpemanis, Begini Kata Asrim dan Gapmmi
"Kami mendukung kebijakan ini, tapi tentunya juga kami melihat perlu ada upaya dan bantuan pemerintah untuk bisa memfasilitasi terutama terkait dengan reformulasi produk," ujarnya.
Selain reformulasi yang prosesnya tak sederhana, ia menyebut tantangan lain, yakni dibutuhkan waktu untuk membangun kebiasaan konsumsi masyarakat terhadap produk rendah kalori.
"Walaupun penjualan produk-produk minuman yang rendah kalori itu bertumbuh, tapi pertumbuhannya masih kecil," jelas Triyono.
Untuk itu, Asrim mengimbau pemerintah agar dapat mendorong kebijakan yang dapat memacu konsumsi kelas menengah untuk merangsang sektor ritel nasional.
Baca Juga: Kebijakan Nutri Level, Industri Mamin Minta Waktu Adaptasi
"Selain kami juga berusaha menjaga agar produk kami tetap affordable, harapan kami pemerintah mendorong agar bisa meningkatkan daya beli," jelas Triyono.
Ia juga menyoroti bahwa pemerintah perlu mengoptimalkan komunikasi dan kolaborasi dengan pengusaha dan pekerja untuk mendukung pertumbuhan industri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













