Reporter: Hervin Jumar | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perubahan strategi bisnis platform digital mulai memunculkan tekanan baru bagi pelaku usaha di ekosistem perdagangan online.
Kenaikan biaya layanan, ongkos kirim, hingga beban retur mulai memicu kegelisahan di kalangan penjual online.
Sejumlah seller kini mulai mempertimbangkan mengurangi ketergantungan terhadap marketplace dan membangun kanal penjualan sendiri melalui media sosial maupun toko offline demi menjaga margin usaha.
Baca Juga: Implementasi PP Tunas Perlu Menyeimbangkan Antara Proteksi dan Bisnis
Fenomena itu muncul setelah sejumlah platform e-commerce menaikkan biaya layanan logistik sejak Mei 2026. Di saat bersamaan, seller juga dibebani biaya administrasi, promosi, iklan, hingga ongkos retur yang dinilai semakin memberatkan.
Salah satu penjual pakaian wanita di TikTok dan Shopee dengan nama toko Shanum25, Bunga (32), mengaku mulai merasakan tekanan berat dari perubahan skema biaya platform.
Seller asal Jakarta Barat yang menjual dress, atasan wanita, hingga pakaian one set Bangkok itu mengatakan keuntungan usahanya terus menyusut akibat potongan ongkir, biaya admin, dan retur barang.
“Sekarang seller dapat untung kayak cuma hikmah aja. Dulu bisa untung 50%, sekarang tinggal 25%, bahkan pernah cuma 5%,” ujar Bunga saat dihubungi Kontan, Jumat (8/5/2026).
Menurutnya, skema baru ongkir dan biaya layanan mulai memengaruhi kondisi seller aktif di marketplace. Meski belum memutuskan keluar dari platform digital, Bunga mengaku mulai mempertimbangkan membuka toko offline apabila tekanan biaya terus meningkat.
“Kalau begini terus penginnya buka toko offline saja karena pendapatan makin kepepet,” katanya.
Baca Juga: Produksi Batubara Melambat, IMC Pelita Logistik (PSSI) Andalkan Bisnis Mother Vessel
Bunga menyebut persoalan terbesar bukan hanya biaya administrasi, tetapi juga beban retur yang kini ikut ditanggung seller. Padahal sebelumnya biaya pengembalian barang tidak dibebankan kepada penjual.
Ia mencontohkan, produk yang sebelumnya bisa menghasilkan laba Rp50.000 kini hanya menyisakan keuntungan sekitar Rp9.000 setelah dipotong ongkir dan biaya platform hingga Rp45.000.
Keluhan serupa disampaikan seller lain, Muliyani (22). Namun, ia mengaku masih memilih bertahan di marketplace dengan mengandalkan strategi promosi dan menjaga kualitas produk untuk menghadapi tekanan biaya serta persaingan antarseller di platform digital.
“Yang penting sih kendala ongkir, biaya admin dan retur. Kalau pesaing masih bisa kami handle dengan kualitas barang dan ikut tren promosi,” ujarnya.
Hanya saja, Muliyani mengakui biaya retur menjadi ancaman serius bagi seller kecil. Untuk pengiriman di wilayah Jawa Barat saja, ongkos retur yang harus ditanggung penjual berkisar Rp10.000-Rp11.000 per paket. Sementara untuk pengiriman luar pulau seperti Sulawesi dan Kalimantan, biaya bisa melonjak hingga Rp 40.000-Rp 50.000.
Muliyani berharap skema biaya di marketplace dapat kembali normal seperti sebelumnya. Sebab, seller kecil dinilai semakin kesulitan menjaga keuntungan ketika biaya admin, ongkir, dan retur terus meningkat.
Baca Juga: Dian Solar Perkuat Bisnis Energi Terbarukan Lewat Smart PV dan BESS
Ia mengaku upaya menaikkan harga produk untuk menutup tambahan biaya pun tidak banyak membantu karena potongan biaya platform ikut meningkat seiring kenaikan harga barang.
“Harapannya bisa kayak dulu lagi, biaya admin, retur, sama ongkir normal, enggak melonjak kayak sekarang. Soalnya kita coba naikkin harga buat nutup biaya, eh potongannya ikut naik juga,” pungkasnya.
Di tengah tekanan biaya yang terus meningkat, ekonom mulai melihat potensi pergeseran struktur pasar e-commerce.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, mengatakan kenaikan biaya platform berisiko membuat seller meninggalkan marketplace karena margin usaha semakin tertekan.
Menurutnya, konsumen Indonesia masih sangat sensitif terhadap harga, termasuk ongkos kirim. Ketika biaya platform naik, seller pada akhirnya akan membebankan biaya tersebut ke harga produk sehingga permintaan berpotensi melambat.
“Kalau harga naik, konsumen cari yang lebih murah. Seller juga bisa pindah ke social commerce yang biayanya lebih rendah,” Ujar Nailul saat kepada Kontan, Jumat (8/5/2026).
Nailul menilai langkah platform menaikkan biaya tidak lepas dari perubahan strategi bisnis perusahaan digital yang kini mulai mengejar profitabilitas.
Baca Juga: Menggarap Pasar Smart Home Premium, Haier Perluas Ekspansi
Di sisi lain, Huda menilai pemerintah perlu memberi perlakuan berbeda antara produk lokal dan barang impor di e-commerce, termasuk melalui insentif logistik untuk produk UMKM domestik.
Menurutnya, perlindungan diperlukan karena mayoritas barang yang beredar di marketplace masih didominasi produk impor.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













