kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.557.000   3.000   0,12%
  • USD/IDR 18.093   -96,00   -0,53%
  • IDX 5.030   110,49   2,25%
  • KOMPAS100 648   16,04   2,54%
  • LQ45 514   12,41   2,48%
  • ISSI 166   2,88   1,77%
  • IDX30 289   6,27   2,22%
  • IDXHIDIV20 389   6,59   1,72%
  • IDX80 75   1,80   2,47%
  • IDXV30 108   1,64   1,54%
  • IDXQ30 97   2,23   2,35%

BKPM Dorong Hilirisasi Timah dan Nikel hingga Produk Akhir, Ini Alasannya


Kamis, 05 November 2026 / 20:50 WIB
BKPM Dorong Hilirisasi Timah dan Nikel hingga Produk Akhir, Ini Alasannya
ILUSTRASI. Hilirisasi timah (Dok/MIND ID)


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mendorong pelaku industri di Indonesia memperluas hilirisasi hingga menghasilkan produk akhir (end product).

Upaya ini dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus memenuhi tuntutan pasar global terhadap aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).

Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Heldy Satrya Putera, mencontohkan komoditas timah yang selama ini menjadi salah satu andalan ekspor Indonesia.

Baca Juga: Adevegroup Bidik Industri Herbal dan Pangan, Perluas Akses Bahan Baku

Meski Indonesia merupakan salah satu produsen timah terbesar di dunia, produk hilir yang diekspor masih didominasi timah solder (solder tin).

Padahal, menurut Heldy, pemanfaatan timah dapat dikembangkan ke berbagai produk bernilai tambah, termasuk timah kimia (chemical tin) yang digunakan untuk kebutuhan kemasan, botol, hingga industri elektronik.

"Padahal, aplikasi timah sangat beragam dan sangat dibutuhkan. Kita ingin ke depan ada chemical tin (timah kimia) yang diperlukan untuk kemasan, botol, hingga industri elektronik yang perkembangannya bisa bersaing pesat dengan negara lain," ujar Heldy dalam Forum Mineral Kritis Multi-Pihak Indonesia 2026, Kamis (5/11).

Dorongan memperluas hilirisasi hingga produk akhir juga berlaku untuk komoditas nikel. Heldy menepis anggapan bahwa pengembangan industri nikel di Indonesia terlalu berorientasi pada produksi baja nirkarat (stainless steel) dibandingkan bahan baku baterai kendaraan listrik (EV).

Ia menjelaskan, nikel memiliki karakteristik berbeda yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan industri baja maupun baterai.

Baca Juga: WIKA Perkuat Mitigasi Risiko Kurs, Cermati Biaya Proyek dan Tender 2027

Karena itu, pemerintah ingin mengembangkan kedua lini industri tersebut secara bersamaan hingga menghasilkan produk akhir di dalam negeri.

Terkait risiko kelebihan pasokan (oversupply) dan fluktuasi harga akibat ekspansi industri pengolahan, Heldy menilai pengembangan ekosistem hilirisasi yang terintegrasi menjadi salah satu hal penting.

Produk hasil pengolahan perlu diserap oleh industri lanjutan agar tidak menimbulkan tekanan berlebih terhadap harga.

"Tata kelolanya yang perlu kita atur. Kita ingin membangun hilirisasi dalam bentuk ekosistem yang lengkap agar ada produk-produk lanjutan yang menyerap hasil olahan tersebut, sehingga harganya tidak jatuh," kata Heldy.

Selain memperkuat rantai industri, BKPM juga mengingatkan investor untuk memperhatikan standar hak asasi manusia (HAM) dan pelestarian lingkungan.

Pasalnya, tuntutan pasar global terhadap produk berkelanjutan kini tidak hanya mencakup kualitas produk akhir, tetapi juga proses produksi dan pengambilan sumber daya alam.

Baca Juga: Didominasi Hunian Tapak, Marketing Sales LPKR Capai Rp 5,49 Triliun

Heldy mengatakan, konsumen global semakin mempertimbangkan dampak lingkungan dan kesehatan dalam memilih produk. Kondisi ini membuat pelaku industri perlu memastikan seluruh rantai pasok memenuhi standar keberlanjutan agar dapat bersaing di pasar internasional.

"Masyarakat global kini semakin selektif dan mau membayar lebih untuk produk yang ramah lingkungan serta menjaga kesehatan. Apabila kita ingin masuk ke pasar global, otomatis kita harus mengikuti standar tersebut," kata Heldy.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
11.11
Kontan Academy
[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership Mitigasi Risiko SP2DK dan Pemeriksaan Pajak

[X]
×