Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. China, menjadi negara asal perusahaan yang mengikuti lelang Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang dilakukan Danantara.
Dalam catatan Kontan sebelumnya, pada tahap awal lelang batch pertama terdapat 24 perusahaan yang lolos sebagai Daftar Penyedia Terseleksi (DPT).
Jika dilihat, dari 24 perusahaan tersebut terdapat 20 perusahaan yang berasal dari China, 1 perusahaan dari Prancis, dan 3 perusahaan dari Jepang.
Senior Advisor Nexus3 Foundation sekaligus penerima penghargaan Lingkungan Goldman, Yuyun Ismawati mengatakan dengan jumlah mayoritas ini, maka perusahaan asal China berpeluang lebih memenangkan lelang PSEL.
Dia juga mengatakan bahwa Capital Expenditure (Capex) yang digunakan dalam China untuk membangun insinerator atau teknologi tungku pembakaran dalam proyek pembangkit sampah lebih rendah dibandingkan dengan negara lainnya, seperti Jerman, Amerika atau negara-negara di Eropa.
"Yang banyak ikutan lelang adalah mayoritas China, memang China capex untuk bikin insinerator itu terendah sedunia. Jadi kalau dibandingkan semua negara, investasi terendah untuk insinerator adalah China," kata Yuyun kepada Kontan, Senin (19/01/2025).
Yuyun menambahkan, proses pembakaran pada proyek PSEL di China dibantu dengan batubara. Hal inilah yang justru kontradiktif dengan target Indonesia untuk mencapai Energi Baru Terbarukan (EBT) dari proyek PSEL.
Baca Juga: Ekonom Ungkap Proyek PLTSa Harusnya Tidak Dilaksanakan Danantara, Ini Alasannya
"Dan di China itu dibakarnya dibantu dengan batubara. Kalau China yang running the company, ini praktek akan mereka bawa ke Indonesia," tambah dia.
Untuk diketahui, berikut adalah 24 perusahaan yang masuk dalam daftar DPT, dengan detail asal negara sebagai berikut:
- Mitsubishi Heavy Industries Environmental & Chemical Engineering dari Jepang
- ITOCHU Corporation dari Jepang
- China Everbright Environment Group Limited dari China
- Kanadevia Corporation dari Jepang
- PT MCC Technology Indonesia (MCC) dari China
- China National Environmental Protection Group Co., Ltd (CECEP) dari China
- GCL Intelligent Energy (Suzhou) Co., Ltd. dari China
- Chongqing Sanfeng Environment Group Corp., Ltd dari China
- Dynagreen Environmental Protection Group Co., Ltd dari China
- SUS Indonesia Holding Limited konsorsium Indonesia dengan China
- Veolia Environmental Services Asia Pte. Ltd dari Prancis
- Hunan Construction Engineering Group Co., Ltd dari China
- CEVIA Enviro Inc. dari China
- China Conch Venture Holding Limited dari China
- China TianYing Inc dari China
- PT Jinjiang Environment Indonesia dari China
- Wangneng Environment Co., Ltd dari China
- Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd dari China
- Beijing China Sciences Runyu Environmental Technology Co.,Ltd. (CSET) dari China
- Tianjin TEDA Environmental Protection Co., Ltd dari China
- Grandblue Environment Co., Ltd dari China
- Beijing GeoEnviron Engineering & Technology, Inc dari China
- Wuhan Tianyuan Group Co., Ltd dari China
- QiaoYin City Management Co., Ltd dari China
Jenis Sampah di Indonesia Tidak Mendukung Proyek PSEL
Yuyun menambahkan, Indonesia masih terbelakang dalam sistem pemilahan sampah. Secara teknis sampah di Indonesia 60% adalah sampah organik yang tidak layak bakar.
"Sampah kita masih tercampur, makanya harus ada roadmap-nya. Kalau sampah masih tercampur, nilai kalornya rendah," ungkap dia.
Dengan karakteristik sampah yang tidak memenuhi kriteria, untuk mendapatkan kalori yang dimau agar dapat menjadi tenaga listrik, PLTSa Indonesia membutuhkan fuel additive (aditif bahan bakar) yang dapat berupa solar atau batubara.
Baca Juga: Penggunaan Insinerator pada PLTSa Garapan Danantara Berdampak Negatif bagi Lingkungan
"Sampahnya tidak sesuai, dan kalau tidak layak bakar harus didorong pake batubara, ini akan menghasilkan abu lebih banyak lagi karena temperaturnya tidak bisa mencapai 1.000 (derajat Celcius)," ungkapnya.
"Kalau pembakaran tidak mencapai 1.000 artinya pembakaran tidak sempurna, maka racun yang terbentuk.
Racun yang paling berbahaya ada racun dioksin. Itu adalah sumber racunnya," jelasnya.
Asal tahu saja, dioksin disebut polutan organik persisten (POP). yang berarti membutuhkan waktu lama untuk terurai setelah berada di lingkungan. Dioksin sangat beracun dan dapat menyebabkan kanker, masalah reproduksi dan perkembangan, kerusakan sistem kekebalan tubuh, dan dapat mengganggu hormon.
Sebelumnya, dalam catatan Kontan, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan dalam Peraturan Presiden (Perpres) baru terkait program waste to energy (WtE) telah ditetapkan standar kepatuhan lingkungan dan kewajiban penggunaan scrubber untuk insinerator dalam PLTSa.
Sebagai informasi, scrubber ini adalah alat pengendali polusi untuk menyaring gas buang agar tidak mencemari lingkungan.Alat ini bekerja dengan menyemprotkan air atau bahan kimia untuk menghilangkan polutan berbahaya seperti sulfur dioksida (SO2) dan nitrogen oksida (NOx).
Baca Juga: Danantara Sebut Groundbreaking Proyek PLTSa Pertama pada Maret 2026
"Karena AMDAL, sudah dijelaskan di dalam Perpres, mematuhi lingkungannya. Sehingga dia harus pakai scrubber di situ. Dipasang di atasnya itu scrubber,"kata Eniya beberapa waktu lalu.
Meski begitu, Yuyun bilang berdasarkan regulasi lingkungan hidup di Indonesia, khususnya untuk pengelolaan limbah B3 dan emisi termal (seperti insinerator/PLTSa), pengukuran dan pemantauan baku mutu dioksin dan furan hanya akan dicek setiap lima tahun sekali.
"Di Indonesia tidak akan ada penanganan pencemaran di cerobong. Karena gak ada laboratoriumnya di Indonesia, pemerintah bikin baku mutu dioksin dari insinerator hanya cukup diperiksa 5 tahun sekali," kata dia.
"Karena harusnya dua kali setahun, musim hujan dan musim kering," kata dia.
Secara garis besar, Yuyun bilang proyek PLTSa Danantara bukan jawaban atas permasalahan sampah di Indonesia. Langkah lelang yang dilakukan oleh sovereign wealth fund (SWF) ini menurut dia juga dilakukan tanpa kajian yang jelas.
"Peraturannya harus diubah, emisi, baku mutu, lokasi, tidak bisa langsung main lelang-lelang sekarang," tutupnya.
Baca Juga: Groundbreaking PLTSa Dikebut, Danantara Diminta Buka Pemenang Lelang
Selanjutnya: Pimpin Rapat Terbatas dari London, Prabowo Bahas Penertiban Kawasan Hutan
Menarik Dibaca: Prakiraan BMKG Cuaca Besok (20/1) di Jakarta Hujan Petir di Daerah Ini
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News











![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
