kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.665.000   13.000   0,49%
  • USD/IDR 16.882   -7,00   -0,04%
  • IDX 9.033   84,28   0,94%
  • KOMPAS100 1.248   7,65   0,62%
  • LQ45 882   3,22   0,37%
  • ISSI 330   3,28   1,00%
  • IDX30 449   0,01   0,00%
  • IDXHIDIV20 529   -1,74   -0,33%
  • IDX80 139   0,91   0,66%
  • IDXV30 147   0,11   0,08%
  • IDXQ30 144   0,01   0,00%

China–India Tekan Penggunaan Batubara, APBI Dorong Industri Tambang Beradaptasi


Rabu, 14 Januari 2026 / 20:28 WIB
China–India Tekan Penggunaan Batubara, APBI Dorong Industri Tambang Beradaptasi
ILUSTRASI. Nilai Ekspor Batubara Ke Eropa (KONTAN/Cheppy A. Muchlis). APBI optimis impor batubara China dan India masih besar di 2026. Penurunan output listrik belum tentu hilangkan kebutuhan impor.


Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Langkah China dan India menekan penggunaan batubara demi memperbesar porsi listrik dari Energi Baru Terbarukan (EBT) dinilai bakal berdampak pada kinerja ekspor batubara Indonesia. 

Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) menilai industri perlu segera menyiapkan strategi adaptif agar tetap kompetitif.

Direktur Eksekutif APBI, Gita Mahyarani, mengatakan penurunan ketergantungan batubara di dua negara importir terbesar dunia itu menjadi sinyal perubahan tren permintaan global. 

Hal ini berpotensi menekan ekspor batubara termal Indonesia dalam jangka menengah hingga panjang.

Baca Juga: Pengusaha Batubara Ingatkan Risiko Kemitraan Tambang Ilegal terhadap Kepastian Hukum

“Penurunan output listrik berbasis batubara di China dan India menjadi indikator perubahan tren permintaan global yang dapat mengurangi ekspor batubara termal Indonesia. Industri perlu menyiapkan strategi adaptif terhadap transisi energi di kedua negara tersebut,” ujar Gita kepada Kontan, Rabu (14/1/2026).

Sebelumnya, Bloomberg melaporkan pernyataan analis utama Center for Research on Energy and Clean Air, Lauri Myllyvirta, yang menulis di Carbon Brief. 

Ia menyebut China dan India sepanjang 2025 mulai serempak menurunkan ketergantungan pada batubara seiring percepatan pengembangan energi bersih.

Di sisi lain, Gita menyoroti revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tambang untuk 2026 yang masih menjadi faktor penentu volume produksi dan ekspor batubara ke depan. Menurutnya, hingga kini angka produksi belum sepenuhnya jelas.

Baca Juga: Perhapi Ungkap Beban Industri Tambang di Tengah Implementasi Biodiesel B40

“Kami belum bisa mem-forecast lebih jauh karena angka produksinya masih belum final. Jika diasumsikan, ekspor akan mengikuti porsi Domestic Market Obligation (DMO) karena prioritas tetap pasokan dalam negeri. Jadi kami masih menunggu kepastian angka produksi dari pemerintah,” jelasnya.

Meski demikian, APBI tetap optimistis kebutuhan batubara China dan India masih besar. Berdasarkan data APBI, kebutuhan batubara China mencapai 325,9 juta ton per tahun, sementara India sekitar 194,1 juta ton per tahun.

“Meskipun output listrik batubara di China dan India menurun, kebutuhan impor batubara termal mereka pada 2026 masih cukup besar. Artinya, penurunan output belum tentu menghilangkan kebutuhan impor, tetapi lebih mencerminkan pelemahan permintaan dan pertumbuhan EBT di sana,” pungkas Gita.

Selanjutnya: 4 Kandungan Skincare yang Cocok Dikombinasikan dengan Ceramide, Jangan Ragu Pakai!

Menarik Dibaca: 4 Kandungan Skincare yang Cocok Dikombinasikan dengan Ceramide, Jangan Ragu Pakai!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×